Ia menambahkan bahwa faktor genetik menjadi salah satu penyebab mara minus dan silinder. Mata minus biasanya juga disebabkan aktivitas melihat suatu objek terlalu dekar. Biasanya mata minus selalu merundung anak-anak, karena di atas usia 18 tahun kondisi mata sudah cenderung stabil.
"Penjelasan ini juga berlaku untuk penyakit-penyakit mata lain yang pengobatannya tidak gampang, seperti penyakit pada retina, glaukoma, katarak, dan sebagainya," kata dr. Riva.
Sebagai dokter spesialis mata, dr. Riva merasa memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan informasi yang sahih, dan meluruskan kekeliruan di tengah masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan, beberapa kali ia mendapatkan pasien dengan kondisi mata yang sudah parah akibat penggunaan kacamata ion nano.

"Misalnya saja ada pasien yang matanya ada gangguan di retinanya, lalu mereka menggunakan kacamata ini karena mendengar testimoni dari sana sini. Dia akhirnya berharap banyak dari kacamata ini, dan akhirnya dia tidak kontrol-kontrol mata," ujar pria yang baru saja meluncurkan novel kedokteran bertajuk 'begu ganjang'.
"Bayangkan pula kalau keadaan mata dia semakin buruk. Terus waktu datang ke dokter sudah susah untuk dilakukan tindakan atau pengobatan. Maka dari itu ini harus diluruskan. Harga kacamatanya juga tidak murah, bisa sampai Rp700 ribu - Rp1 juta. Kan kasian yang sudah beli tapi tidak mendapatkan hasil," tambahnya.