Mengetahui identitas sang hantu, Dya dan teman-temannya pun tidak merasa asing lagi. Pasalnya asrama yang ditempati mereka merupakan salah satu bangunan tua yang terletak di pusat kota Jakarta yang menyimpan banyak sejarah mengenai masa kolonial.
Yang membuat Dya terkejut adalah saat sang hantu menyebut tempat ia berasal. Ternyata hantu tentara Belanda tersebut mendiami kamar asrama Dya yang terletak pada bagian sudut ruangan. Usai permainan itu Dya pun jadi ketakutan untuk masuk ke kamarnya sendiri.

Selama tiga hari, ia pun memutuskan untuk tinggal di kamar temannya karena ketakutan. Tinggal di kamar sahabatnya membuat ruang gerak Dya sangat terbatas, mengingat satu kamar hanya bisa menampung ranjang, satu lemari besi dan satu meja serta kursi untuk belajar.
Terlebih Dya pun harus kucing-kucingan dengan suster pengawas yang bisa kapan saja memergokinya. Pada hari keempat Dya pun akhirnya menyerah dan memberanikan diri untuk kembali tinggal di kamarnya sendiri.