Setelah kejadian itu, Nia lantas menghubungi orang rumah agar segera pulang dan rumah sakit terdekat agar ditolong. Tapi, menurut penjelasan Nia, pertolongan datang lumayan lama, darah semakin banyak keluar, kepala sudah pusing, nggak ada tenaga, rasanya mau mati. "Pastinya sudah kebayang yang aneh-aneh, aku pasrah," sambungnya.
Ketika itu hari mulai terang, Nia baru dibawa ke rumah sakit naik ambulance. Rasanya sudah enggak ada tenaga, masuk UGD dan melaukan tes urin dan tes darah. Setelah itu, hasil keluar dan benar saja, Nia dinyatakan keguguran. Pedih, rasanya teriris walau pun enggak ada energi.
Parahnya lagi, Nia sudah kehabisan darah berliter-liter. Bayangkan gimana tubuh jadi enggak lemas, ternyata banyak darah keluar. Ditambah punya riwayat Darah Hb rendah.

Setelah dapat pertolongan kedua, dokter sebut Nia harus menjalani kuretase. "Duh, apalagi ini. Membayangkan sakitnya, karena ada benda tajam yang masuk ke rahim untuk membersihkan sisa darah, apalagi dokter bilang enggak dibius total. Entah janinnya bentuknya gimana karena usia kehamilannya masih belasan minggu," paparnya.
Lalu, Nia kira merasa sudah lega pasca-kuretase hanya dengan bedrest biasa. Tapi, dia harus transfusi darah sampai empat kantung, sampai akhirnya dirawat di rumah sakit sekira empat hari.
Selang tiga bulan Nia mengaku hamil kedua kalinya. Lagi-lagi gagal karena dia tidak peka dengan kondisinya. Saat hamil muda, aktivitas saja seperti biasa, jalan kaki, naik turun tangga enggak ada keluhan capek seperti orang yang hamil.