Saat ini ia hanya memilih pakaian berbahan denim dan mengombinasikannya dengan kain dan corak tertentu seperti batik menggunakan teknik sashiko. Menurutnya, kombinasi denim dengan perca batik juga dapat mengangkat nilai tradisional pada anak muda.
"Kalau denim banyak peminatnya. Dan karena bahannya paling awet. Aku nggak mau beli deadstock tapi jadi deadstock juga buat aku," ucap Anas.
Untuk membuat pakaian yang menampilkan nilai tradisional namun kekinian, Anas biasanya memadukan denim dengan batik dengan warna-warna yang disesuaikan. Untuk motif, ia mengatakan bisa menggunakan berbagai macam motif yang ada.

(Foto: iwearempathy/Instagram)
"Biasanya aku pelajari colou palette, warna biru cocoknya sama apa saja. Lalu aku pakai yang ada dan motifnya bisa apa saja," ungkapnya.
Upaya berbeda untuk mengurangi limbah fashion juga dilakukan oleh Wahyuningsih Wulandari. Desainer asal Solo ini memanfaatkan limbah-limbah fashion menjadi hasil karya yang bisa digunakan seperti tas.
Ide ini berawal dari keprihatinan Wulan melihat limbah konveksi kaus yang mencemari air sungai di sekitar rumahnya. Dari tujuh konveksi yang ada di sekitar rumahnya, satu konveksi saja bisa menghasilkan 80 kilogram limbah.