Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Inri, Korban Body Shaming yang Sempat Mencoba Bunuh Diri

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Sabtu, 10 Agustus 2019 |14:04 WIB
Kisah Inri, Korban <i>Body</i> <i>Shaming</i> yang Sempat Mencoba Bunuh Diri
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

MASIH membekas di hati dan pikiran Inri, hinaan yang kerap dilontarkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, tak terhitung sudah berapa kali Inri menjadi korban body shaming hingga ia sempat melakukan percobaan bunuh diri.

Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa isu body shaming saat ini belum menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia. Kesadaran masyarakat terhadap isu tersebut pun dinilai masih rendah.

"Kamu gendutan ya sekarang?," , "Diet dong biar kelihatan cantik," , "Buset, badan lo besar banget kayak gajah," adalah beberapa contoh bentuk body shaming yang tanpa kita sadari sangat menyakitkan bagi para korbannya.

"Kata-kata seperti itu sangat menyakitkan, dan bisa mempengaruhi kesehatan mental korbannya. Tak jarang korban body shaming itu mengalami depresi," terang Inri saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu (10/8/2019).

 Salah satunya saat ia sedang melakukan perjalanan dinas ke Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, pada 2018 lalu.

Korban body shaming harus berani speak up

Kepada Okezone, Inri pun membagikan pengalaman tidak menyenangkan saat dirinya menjadi korban body shaming. Salah satunya saat ia sedang melakukan perjalanan dinas ke Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, pada 2018 lalu.

Kala itu, Inri dan rombongan kantornya sedang menaiki sebuah perahu untuk menyeberang ke sebuah pulau. Namun di tengah perjalanan, seorang pria lanjut usia tiba-tiba mengomentari bentuk fisik Inri.

"Suasananya memang lagi santai, dan dia anggap sebagai candaan semata. Tapi saya tidak terima, saya langsung bilang ke dia 'it's not okay, tidak benar, dan unacceptable'. Dia langsung diam dan benar-benar minta maaf," ungkap Inri.

Ironisnya, sang pelaku body shaming berasal dari sebuah instansi pemerintahan yang memiliki background pendidikan memumpuni. Itulah sebabnya Inri berani menegur pria tersebut, karena memang hingga saat ini belum banyak korban body shaming yang berani speak up. Alhasil orang-orang menjadi tidak peka.

"Pengalaman dari saya kecil, kalau jaman dulu orang itu merasa tidak bersalah untuk berkomentar tentang tubuh orang lain. Mereka tidak berpikir orang yang mereka komentari perasaannya tersakiti atau tidak," kata dia.

"Mereka menganggap itu hal wajar. Tapi sebetulnya it's not okay. Mereka harus tahu bahwa seseorang tidak punya hak untuk mengomentari tubuh orang lain," tambahnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement