Nasib seorang bocah Sekolah Dasar (SD) di Desa Buding, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung mungkin tak seberuntung anak-anak lain pada umumnya.
Bocah SD yang tidak disebutkan namanya ini tidak mau sekolah karena sering diolok-olok oleh teman-temannya. Ia di-bully teman-temannya karena baju seragam yang ia kenakan bolong-bolong terkena percikan abu rokok.

Kisah ini diceritakan oleh Mardini yang merupakan ayah dari anak SD tersebut. Cerita kelam anaknya ini ia sampaikan pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.
Saat ini Mardini sendiri telah menyadari perbuatannya dan memutuskan untuk berhenti merokok. Ia bercerita mulai merokok di usia 12 tahun. Sejak kejadian pedih menimpa anaknya, ia mulai berhenti merokok.
“Saya pada usia 12 tahun sudah merokok, usai 33 tahun saya mendeklarasikan tidak merokok. Sekarang usia saya 43 tahun. Motivasi saya berhenti merokok karena sudah mengganggu saya dan keluarga saya,” tutur Mardini.
Mardini yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Buding mengaku berhenti merokok bukanlah sebuah hal yang mudah dilakukan. Ia membutuhkan waktu selama 2 tahun untuk membiasakan dirinya lepas dari rokok.
Namun, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Pada tahun ketiga, ia akhirnya berhasil berhenti merokok. Di saat itu juga ia selalu mensosialisikan stop merokok kepada warganya agar tidak merugikan orang lain yang ada di sekitarnya.
“Saya selaku kepala desa terus mensosalisasikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sesuai Peraturan Daerah Belitung Timur nomor 16 tahun 2016 tentang KTR. Selain itu, setiap kegiatan saya mensosialisasikan tentang bahaya merokok,” lanjut Mardini.