“Anak-anak GenPI Belitung memang keren. Mereka melihat potensi yang ada di daerahnya, mengolahnya, kemudian ditawarkan dengan kemasan millenial. Jika ada yang mengatakan bertani itu kuno, ini justru keren banget,” ungkapnya.
Dengan modal berupa lahan seluas 30 hektare, Pasar Rimba membaginya jadi beberapa zona. Selain lapak, lahan tersebut diprioritaskan untuk pengembangan permainan, hortikultura, dan perikanan. Area hortikultura terbagi menjadi sayuran dan buah-buahan.
Zonasi sayuran ini menempati empat buah green house. Luasan green house 15 x 30 meter dengan treatment utama pertanian organik. Setiap green house ditanami beragam jenis sayuran. Komposisinya lengkap. Yaitu beragam jenis sawi, kangkung, tomat, edamame, dan bayam. Untuk sawi, variannya terdiri dari sendok, pait, taiwan, manis, dan bangkok. Masa panen 5 minggu, kapasitas produksinya 25 kg.
Sementara itu Menteri Pariwisata Arief Yahya juga angkat topi melihat keberhasilan Pasar Rimba. Ia mengaku gembira mendengar pertumbuhan positif destinasi digital ini. Menurutnya, profil Pasar Rimba bahkan sudah ideal untuk menjaring investor.
“Semua potensi mendukung untuk mengembangkan industri pertanian. Lahan mereka luas, pasarnya sudah jelas. Mereka ini jeli membaca peluang. Sebab, Belitung juga membutuhkan produk pertanian seperti sayur dan buah,” tandasnya mengomentari destinasi digital Pasar Rimba.
(Abu Sahma Pane)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.