
Sebanyak 500.000 orang yang terlibat dalam proyek itu menjalani berbagai pemeriksaan, memberikan sampel darah, urine, dan ludah untuk analisis masa depan, informasi rinci tentang diri mereka dan setuju kondisi kesehatannya di pantau. Para peneliti menyatakan me reka telah memajukan bidang AI dengan studi baru tentang prediksi kematian.
“Kami telah mengambil langkah besar ke depan dalam bidang ini de ngan mengembangkan pen de katan unik dan holistis untuk memprediksi risiko kematian dini seseorang, dengan mesin pembelajar,” tutur Dr Stephen Weng, asisten profesor epidemiologi dan data sains di Universitas Not tingham.
“Perawatan kesehatan preventif terus menjadi prioritas dalam me merangi berbagai penyakit serius, sehingga kami harus bekerja beberapa tahun untuk memperbaiki akurasi penilaian risiko kesehatan terkomputerisasi pada populasi umum,” papar Weng.
Dia menambahkan, sebagian besar peserta penelitian fokus pada bidang penyakit tunggal. Memprediksi kematian karena beberapa penyakit berbeda sangat rumit, terutama dengan berbagai faktor lingkungan dan individu yang mungkin mempengaruhi mereka.
Weng menerangkan, sistem yang dibuat timnya menggunakan sejumlah komputer untuk membangun model prediksi risiko baru yang mempertimbangkan demografi, biometrik, klinik, dan faktor gaya hidup pada setiap individu yang di nilai.