“Akan tetapi perilaku konsumsi dan produksi kita sampai saat ini, nampaknya masih belum seluruhnya selaras dengan alam,” tambahnya.

WWF Indonesia mencatat, setiap tahunnya, kampanye ini melibatkan 2.000 relawan dan dua juta orang di media sosial. Kebanyakan relawan ini adalah kelompok muda. Komunitas Earth Hour di berbagai kota mendorong pelestarian bumi dan gaya hidup ramah lingkungan.
“Mereka tidak berhenti di tahun ini 30 Maret saja, tapi mereka juga melakukan banyak kegiatan. Misalnya, tahun lalu relawan menanam terumbu karang dan pohon bakau. Yang paling penting adalah mereka kalau pergi ke mana-mana bawa tumbler dan plastik sekali pakai,” ujarnya kepada VOA.
Komunitas Earth Hour di Indonesia menargetkan, setiap orang bisa mengurangi emisi karbon 5 persen dengan membiasakan gaya hidup ramah lingkungan. Lebih dari mematikan lampu satu jam, jelas Rizal, setiap orang bisa menghemat listrik, memakai transportasi publik, mengurangi plastik sekali pakai, dan membawa botol minum sendiri.