Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waktu Makan Pengaruhi Kenaikan Berat Badan, Ini Faktanya

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 19 Maret 2019 |18:30 WIB
Waktu Makan Pengaruhi Kenaikan Berat Badan, Ini Faktanya
Pola makan pengaruhi berat badan (Foto: Healthandfitness)
A
A
A

Ketika Pot datang berkunjung, ia segera menyadari bahwa ia tidak boleh begadang: "Jika saya bangun jam 10 pagi, nenek tetap bersikeras aku sarapan, dan kita minum kopi dan makan kue setengah jam kemudian," ujarnya. Namun, ia semakin yakin bahwa rutinitas neneknya ini membantu menjaga kesehatannya hingga usia hampir 95 tahun.

Ada beberapa alasan bagus kenapa demikian. Kepekaan kita pada hormon insulin, yang memungkinkan glukosa dari hidangan yang kita makan masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai bahan bakar, lebih besar di pagi hari daripada di malam hari.

Ketika kita telat makan, glukosa itu bertahan di dalam darah kita lebih lama, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, ketika pankreas tidak lagi memproduksi cukup insulin. Ini juga bisa mencederai jaringan lain, misalnya pembuluh darah atau saraf di mata dan kaki. Dalam kasus terburuk, bisa berujung pada kebutaan, atau amputasi.

( Hak atas foto Getty Images/ Image caption Makan di waktu yang tidak teratur dapat turut menyebabkan berbagai kondisi seperti diabetes.)

Menilik data dari survei nasional Inggris yang memantau kesehatan lebih dari 5.000 orang selama lebih dari 70 tahun, Pot menemukan bahwa, meskipun mereka mengonsumsi lebih sedikit kalori secara keseluruhan, orang-orang dengan kebiasaan makan tidak teratur memiliki risiko lebih tinggi terkena sindrom metabolik sekelompok kondisi, antara lain tekanan darah tinggi, kadar gula darah meningkat, kelebihan lemak di sekitar pinggang serta kadar lemak dan kolesterol abnormal dalam darah mereka, yang semuanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Makan dan tidur secara lebih konsisten adalah langkah awal yang bagus, dan idealnya, semua jam biologis kita harusnya beroperasi di zona waktu yang sama. Ketika kita membuka gorden dan melihat cahaya terang di pagi hari, ini mengatur ulang jam utama di otak kita, jadi dengan sarapan tak lama kemudian, kita menguatkan pesan bahwa "ini waktu pagi" pada jam di liver dan sistem pencernaan kita. Oleh karena itu, sarapan yang bergizi sangat penting dalam menjaga jam sirkadian kita tetap bekerja dengan selaras.

Memang, sebuah studi baru-baru ini yang melibatkan 18 orang sehat, dan 18 dengan diabetes tipe 2, menemukan bahwa melewatkan sarapan menyebabkan gangguan ritme sirkadian pada kedua kelompok, serta lonjakan lebih besar kadar glukosa darah ketika mereka akhirnya makan.

Namun, mengatur jadwal kita tidak harus dibayar dengan kurang tidur. Meskipun begadang sesekali mungkin tidak akan berakibat buruk bagi Anda, kita perlu membiasakan untuk tidur cukup – panjang yang disarankan adalah tujuh hingga delapan jam untuk orang dewasa – pada setiap hari dalam seminggu.

Dalam hal ini, paparan cahaya bisa membantu. Meredupkan lampu di malam hari dan mendapatkan lebih banyak paparan cahaya terang pada siang hari telah terbukti dapat menggeser jarum jam utama di otak (SCN) beberapa jam lebih awal, membuat orang mengantuk lebih awal.

(Hak atas foto NurPhoto/Getty Images/ Image caption Semakin malam, metabolisme tubuh semakin melambat; berarti makan di larut malam tidaklah baik terutama bagi pediet)

Beberapa menganjurkan pendekatan yang lebih keras untuk tidak makan sama sekali selama sedikitnya 12 jam, dan mungkin selama 14-16 jam dalam semalam. Dalam sebuah studi penting yang diterbitkan pada 2012, Panda dan rekan-rekannya membandingkan satu set mencit yang memiliki akses ke makanan berlemak dan manis setiap saat, siang ataupun malam, dengan kelompok lain yang hanya bisa mengonsumsi makanan ini dalam jendela delapan hingga 12 jam selama "siang hari" mereka.

Meskipun mereka mengonsumsi kalori dalam jumlah yang sama, mencit yang jendela makannya terbatas tampak sepenuhnya terlindungi dari penyakit yang dialami kelompok lainnya: obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan ginjal rusak. Lebih dari itu, ketika mencit dengan penyakit-penyakit ini ditempatkan dalam jendela makan yang terbatas, mereka menjadi sehat kembali.

Hampir setiap hewan, termasuk kita, berevolusi di planet ini dengan ritme 24 jam yang sangat kuat dalam cahaya dan kegelapan, serta

"Hampir setiap hewan, termasuk kita, berevolusi di planet ini dengan ritme 24 jam yang sangat kuat dalam terang dan gelap, dan ritme terkait dalam makan dan berpuasa," jelas Panda. "Kami pikir fungsi utama [dari siklus ini] adalah untuk memungkinkan perbaikan dan peremajaan setiap malam. Anda tidak dapat memperbaiki jalanan saat lalu lintas masih sibuk. "

Uji coba pembatasan makan pada manusia baru saja dimulai, tetapi beberapa hasil awal tampak menjanjikan — setidaknya pada kelompok tertentu. Misalnya, ketika delapan pria dengan prediabetes yang dipilih secara acak diminta untuk mengonsumsi semua makanan mereka antara jam 8 pagi dan 3 sore, sensitivitas mereka terhadap insulin meningkat dan tekanan darah mereka turun rata-rata 10-11 poin, dibandingkan dengan ketika mereka mengkonsumsi jumlah makanan yang sama dalam periode 12 jam.

BACA JUGA:    5 Gaya Seksi Gisel yang Bikin Netizen Gagal Fokus

Apa artinya ini bagi kita semua belum jelas pada tahap ini, tetapi pepatah lama bahwa Anda harus sarapan seperti raja, makan siang seperti pangeran dan makan malam seperti fakir miskin tampaknya benar.

(Dinno Baskoro)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement