KEPERAWANAN wanita dan keperjakaan pria sering kali menjadi pertanyaan pasangan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat Indonesia masalah keperawanan hingga saat ini masih menjadi sesuatu yang sakral dan topik yang sensitif. Berbanding terbalik dengan masyarakat barat yang budayanya memang sudah bebas.
Ada banyak mitos yang masih dikaitkan dengan masalah keperawanan maupun keperjakaan, Salah satunya adalah aura perawan dan perjaka. Namun apakah kita bisa menilai seseorang hanya dengan melihat aura nya saja? Apakah kita bisa menilai nya dengan aura cahaya yang ada di seseorang tersebut? Apakah aura perawan dan aura perjaka itu nyata?
Ada yang mengatakan bahwa ketika seseorang sudah tidak perawan, aura kecantikannya memudar bahkan menghilang. Bahkan sebenarnya tidak ada tanda-tanda fisik yang bisa dilihat orang lain apakah seseorang pernah berhubungan seksual. Namun masyarakat begitu terobsesi dengan keperawanan sehingga muncul lah berbagai mitos yang ada.
Seperti selaput darah, kebanyakan orang percaya bahwa keperawanan bisa dilihat dari selaput darah yang masih utuh. Selaput dara orang berbeda-beda, tentu bisa saja selaput darah itu robek ketika menaiki sepeda, jatuh atau bahkan ketika seseorang sedang berolahraga. Begitu pun juga halnya dengan aura keperawanan dan keperjakaan, tentu itu tidak bisa jadi tolak ukur keperawanan atau keperjakaan seseorang.