Di kesempatan sama, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Yuly Astuti mengatakan, pemenuhan gizi seperti singkong ini bisa membantu mengintervensi tingginya kasus stunting di Indonesia. Walau jumlahnya menurun dibandingkan hasil Riskesdas 2013, pemerintah dan masyarakat harus tetap berusaha cegah stunting.
"Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan di sektor kesehatan. Ditujukannya kepada ibu hamil serta anak dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan. Intervensi ini hanya berkontribusi sebesar 30% untuk penurunan stunting,” kata Yuly.
Dari hasil Riskesdas 2018, proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada balita Indonesia berada di angka 30,8% pada 2018. Status gizi sangat pendek dan pendek ini menimbulkan masalah stunting, yakni masalah gizi kronis dengan indikasi tinggi badan tidak optimal. Di sisi lain, prevalensi diabetes naik dari 6,9% menjadi 8,5%.
(Martin Bagya Kertiyasa)