“Pembeli kopi robusta itu rata-rata dari warung-warung kopi kecil di sekitar pasar. Nah, kopi jagung itu biasanya yang beli bapak-bapak yang sudah lanjut usia. Mereka kalau ngopi kan bisa bergelas-gelas dalam sehari, jadi cari yang murah. Kalau kopi Toraja sering dibeli oleh pekerja kantoran dan anak-anak muda,” katanya.
Berbicara soal harga, Yilun secara terang-terangan mengatakan bahwa harga kopi di tokonya memang sedikit lebih mahal dari kebanyakan toko kopi. Bukan tanpa sebab, semua produk kopi yang dijual, benar-benar biji kopi asli bukan campuran. Kecuali produk kopi jagung yang memang sengaja ia pisahkan dari produk unggulan.
Mengingat kini sudah banyak pengusaha-pengusaha muda yang turut merintis bisnis kopi, Yilun mengaku bahwa omset yang ia dapatkan sekarang sudah tidak menentu. Dulu, saat bisnis kopi sedang bagus-bagusnya, hasil penjualan bisa digunakan untuk menyekolahkan kedua adiknya hingga mendapat gelar sarjana.
Yilun tidak pernah sedikitpun berkecil hati. Ia percaya setiap orang memiliki pintu rezeki masing-masing. Perkataan itu benar-benar terbukti. Saat sedang asyik bercengkerama dengan Okezone, seorang karyawan dari Dirjen Energi Terbarukan Esdm, tiba-tiba datang dan membeli 6 kg Kopi Toraja.
“Benar kan mas. Kalau sudah Tuhan yang atur, nasib baik dan rezeki pasti ada saja yang datang. Kadang, ada orang yang ucuk-ucuk mampir ke toko. Contohnya seperti bapak ini,” papar Yilun seraya menyambut kedatangan pelanggan barunya.
Bangkit dari keterpurukkan

Perjuangan Yilun dalam mengembangkan bisnis kopi milik keluarganya bukan tanpa rintangan. Pada 31 Januari 2012, tokonya habis dilalap api. Ia terpaksa berhenti berdagang selama kurang lebih dua tahun.