Siang itu, terik matahari terasa begitu menyengat hingga menusuk ke dalam tulang. Secuil aroma wangi khas kopi tiba-tiba menyeruak dari sebuah toko kecil di samping Stasiun Gondangdia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Di balik meja kayu, seorang pria lanjut usia terlihat sedang serius membaca buku berjudul “Ranjang Prokrustes” karya Nassim Nicholas Taleb. Perhatiannya terpecah ketika menyadari kehadiran Tim Okezone.
“Silakan masuk mas, mau beli kopi arabika atau robusta?,” tanya pria itu dengan semburat senyuman di wajahnya.
Nama aslinya adalah Xu Yilun, 62 tahun, tetapi karena pada masa pemerintahan Orde Baru terdapat sebuah kebijakan (Keputusan Presiden No. 240 tahun 1967) yang menganjurkan masyarakat Tionghoa menggunakan nama yang 'lebih' Indonesia, ia terpaksa menggunakan nama Lunardi Valencie pada kartu identitasnya. Padahal, Yilun dan keluarga lahir dan tumbuh besar di Jakarta.

Kepada Okezone, pria yang akrab disapa Koh Ilun itu mengaku menghabiskan hari-harinya menjaga toko sembari membaca tumpukan buku yang telah ia baca berulang kali. Dari hasil penjualan kopi inilah ia dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus menyekolahkan anak semata wayangnya.
Toko tersebut diketahui telah beroperasi sejak tahun 1930-an. Ilun bercerita bahwa saat pertama kali dibuka, toko yang didirikan oleh mendiang ayahnya itu hanya menjual kayu, arang, bumbu rempah-rempah, beras, minyak tanah, dan beberapa kebutuhan dapur lainnya.
“Dulu, namanya Toko Burung Kenari, terinspirasi dari hobi ayah saya yang gemar memilihara burung kenari. Sekarang jadi Toko Kopi Luwak. Kami dulu menjual sembako. Tetapi karena jumlah sembako yang boleh dijual oleh orang Tionghoa dibatasi, ayah saya memutuskan untuk menjual kopi pada tahun 70-an,” tutur Yilun.