Dukuh Kadisobo II Mawardi mengatakan, selain dijadikan inovasi pengolahan salak, pembuatan gudeg dengan bahan baku salak juga untuk menjaga serta melestarikan tanaman salak yang ada di lereng Gunung Merapi, khususnya di daerahnya.
Ini penting, sebab sudah ada beberapa petani salak yang tak menanam salak lagi karena harganya tidak menentu. “Karena itu, kami mencoba agar tanaman salak tetap lestari, yaitu dengan membeli salak sesuai dengan harga pasaran umum, yaitu Rp3.000-4.000 per kg, baik saat panen maupun tidak, sehingga petani tetap menerima hasil yang sama,” kata Mawardi.
Sebagai langkah awal memperkenalkan gudeg berbahan salak adalah dengan membuat destinasi kuliner bernama Pawon Gudeg Salak Pariyem yang dibuka sejak Mei 2018. “Pembuatannya, yaitu dengan memberdayakan ibu-ibu dan remaja yang ada di dusun.
Mengenai pemilihan nama Gudeg Salak Pariyem karena Dusun Kadisobo merupakan tempat tinggal penyair legendaris, Linus Suryadi AG, dengan karyanya Pengakuan Pariyem,” kata Mawardi.
Menurut Mawardi, secara umum gudeg salak rasanya tidak jauh berbeda dengan gudeg nangka muda, yaitu manis. Namun, yang membedakan hanya cara pengolahan dan penyajiannya. Untuk pengolahannya, sebelum dimasak menjadi gudeg, daging salak yang sudah dipotong-potong direndam pakai air kapur selama 1-2 jam terlebih dulu.