Di Indonesia mayoritas orang dengan AIDS adalah Ibu rumah tangga?
Berdasarkan data kumulatif Kementerian Kesehatan sejak tahun 1987 hingga Desember 2017, ibu rumah tangga adalah orang-dengan-AIDS-yang-dilaporkan paling banyak kedua di Indonesia.
Jumlah ibu rumah tangga dengan AIDS mencapai 14.721 orang, tepat berada di bawah mereka yang profesinya “tidak diketahui”, dengan jumlah 28.253 orang.
Sementara pekerja seks komersial dengan AIDS berada di peringkat ke-8 dengan jumlah 3.314 orang.
Baca juga; Indehoy di Siang Bolong, Pasangan Ini Jadi Tontonan Warga Pasar

Namun, dalam berbagai kesempatan, Kementerian Kesehatan menegaskan besarnya angka kumulatif ibu rumah tangga dengan AIDS, bukan berarti pula bahwa ibu rumah tangga memiliki perilaku yang paling berisiko terinfeksi HIV.
Tingginya angka, karena “kementerian kesehatan (lebih) gencar melakukan tes HIV terhadap orang dengan perilaku yang tidak berisiko tinggi, tetapi rentan tertular karena suaminya memiliki perilaku berisiko tinggi seperti menjadi pengguna jarum suntik dan pembeli seks.”
Meskipun begitu, kondisi ini tetap saja mengkhawatirkan karena ibu bisa menularkan HIV kepada anak yang dikandungnya.
Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), HIV bisa ditularkan ke bayi saat ibu mengandung, dalam proses melahirkan dan saat ibu menyusui (lewat air susu ibu).
Baca juga: Pramugari Ini Viral Setelah Penumpang Memotretnya Diam-Diam, Captionnya Bikin Mata Melotot!
Namun, penularan itu bisa diantisipasi. Dengan meminum obat antiretroviral selama ibu mengandung, bayi diberikan obat-obatan HIV selama 4 hingga 6 minggu sejak lahir, serta ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi bisa ditekan hingga kurang dari 2%.
Sementara secara umum di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah HIV yang dilaporkan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Jika orang dengan HIV positif berjumlah 859 pada 2005, jumlahnya naik jadi 21.591 pada 2010, dan melonjak terus hingga 48.300 kasus pada 2017.
Berdasarkan faktor risiko pada Oktober hingga Desember 2017, mayoritas yang terinfeksi (47%) adalah mereka yang menggunakan jarum suntik, disusul heteroseksual (22%) dan pelaku hubungan seks sesama jenis (21%).
Mitos-mitos soal penularan HIV
CDC menyatakan bahwa HIV “hanya” ditularkan lewat cairan tubuh “tertentu”: darah, sperma, pre-cum, cairan anus, cairan vagina dan air susu ibu (ASI).
HIV pada cairan tersebut bisa ditularkan lewat kontak dengan membran mukosa (ada di anus, vagina, penis dan mulut), bagian tubuh yang luka, atau disuntikkan langsung ke aliran darah.
Baca juga: Awas Jangan Dicoba, Ini 5 Posisi Seks Paling Berbahaya
Secara umum, HIV bisa menular lewat hubungan seks anal atau vaginal tanpa kondom atau tanpa meminum obat pencegah HIV. HIV dapat pula ditularkan karena berbagi jarum suntik.
Lebih jauh lagi, meskipun air ludah orang dengan HIV positif mengandung HIV dalam jumlah sedikit, CDC menegaskan “HIV tidak menular lewat ludah”.
Berbagai mitos pun beredar di masyarakat terkait penularan HIV.
Misalnya banyak yang beranggapan bahwa HIV menular lewat kontak sosial termasuk penggunaan alat makan secara bergantian atau bersentuhan, berpelukan dengan mereka yang HIV positif. HIV juga disebut-sebut bisa menular saat berenang di kolam renang umum.
Anggapan tersebut salah. Berdasarkan penelitian CDC, HIV tidak menular melalui hirupan udara, keringat, sentuhan, ludah, air mata, urin, bahkan kotoran.
Ada pula yang menyebut HIV dapat ditularkan lewat gigitan nyamuk.
Ini juga salah. Hingga saat ini tidak ada bukti medis bahwa gigitan nyamuk adalah salah satu media penyebaran HIV. Saat berpindah logasi gigit, nyamuk tidak menginjeksikan darah dari orang sebelumnya ke ‘mangsa’ barunya. Selain itu, umur HIV di dalam serangga disebut tidak bertahan lama.