HINGGA saat ini mungkin belum banyak perempuan yang berkarier sebagai seorang pilot. Hal ini diakui oleh Monika Anggreini, seorang kapten pilot pertama di sebuah maskapai penerbangan swasta. Bahkan perjuangannya untuk mencapai posisi tersebut tidaklah mudah.
Captain Monika, begitu dirinya biasa dipanggil. Terlahir dari kedua orangtua yang merupakan anggota TNI Angkatan Udara (AU) membuatnya dimotivasi oleh sang ayah menjadi pilot. “Dulu saya tidak pernah bercita-cita jadi pilot, dari SD pengin jadi arsitek. Lalu bapak mengatakan ingin salah satu anaknya untuk jadi pilot. Setiap mengantarkan sekolah atau pergi bersama keinginan itu selalu diucapkan,” tuturnya saat ditemui Okezone dalam seminar bertajuk ‘Peran Juang Perempuan Menembus Batas’, Rabu (8/8/2018).
Dalam acara yang digelar oleh Women At AccorHotels Generation di Hotel Mercure Jakarta Cikini itu, Captain Monika menceritakan perjalanan kariernya sebagai pilot yang dimulai pada 1994. Pada saat itu dirinya mendaftar di Juan Flying School, Surabaya. Padahal sebelumnya ia telah menjadi mahasiswi Teknik Sipil di Universitas Trisakti Jakarta.

“Tapi akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan sekolah pilot karena ternyata kuliah teknik sipil susah. Apalagi pada waktu itu satu kelas hanya ada 4-5 mahasiswi,” ungkapnya sambil berseloroh. Dua tahun setelah menjalani pendidikan di sekolah penerbangan, Captain Monika mencoba peruntungan dengan melamar di berbagai maskapai. Akan tetapi, di tahun itu krisis ekonomi terjadi dan membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan. Terlebih untuk menjadi pilot dirinya membutuhkan sejumlah license yang mengizinkannya terbang.