Dan sejarah mencatat, jalur itu diporak-porandakan oleh perwira Inggris bernama TE Lawrence, yang dijuluki Lawrence of Arabia, bersama pemberontak Arab yang memilih keluar dari kekaisaran Ottoman.
Setelah perang berakhir, ketika Inggris dan Prancis membagi-bagi wilayah yang kini bernama Suriah dan tetangga-tetangganya, upaya mempertahankan jalur kereta api Hejaz untuk menyatukan umat Islam berubah menjadi slogan kosong. Bahkan sebagian besar jalur kereta api itu hancur disamun waktu.
Dan sekarang, lokomotif tua peninggalan Ottoman itu tampil molek di stasiun kereta api di Amman. Sebagian badannnya dicat ulang dengan warna-warna terang.
Sebuah ruangan disulap menjadi museum yang menampilkan pernak-pernik terkait jalur kereta bersejarah itu, mulai lembaran tiket lama, foto-foto kuno, lentera, dan potongan rel kereta api.
Salah-satu gerbong kereta yang sudah direstorasi dengan gaya awal abad ke-20 pun ditampilkan pula - lengkap dengan kursi beludru nan mewah, lampu berlapis emas - seolah memberi kesan kemewahan masa itu.
Tetapi, "kisah jalur kereta api Hejaz merupakan tragedi dalam arti sebenarnya," ungkap seorang pengamat Sheikh Ali Attanttawi setelah sebagian besar jalur kereta api itu lapuk dimakan zaman.
"Jalur itu ada di sana, tapi tidak ada kereta yang berjalan di atasnya... bangunan stasiun masih ada, tapi tanpa ada penumpang."
Hak atas foto Amanda Ruggeri
Tapi ini bukan semata kisah nestapa dan harapan yang sia-sia.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa bagian dari jalur kereta api Hejaz itu telah dihidupkan kembali, setidaknya sedikit demi sedikit.
Israel, misalnya, menghidupkan kembali jalur kereta api dari Haifa ke Beit She'an pada tahun 2016.
Lalu jalur kereta api dari Amman ke Damaskus sempat dibuka kembali hingga dihentikan pada akhir 2011 - jalur ini begitu populer sehingga sejumlah warga setempat berkata, dengan tatapan sedih, seandainya saja jalur itu dibuka kembali sehingga mereka bisa berakhir pekan ke Damaskus.
BACA JUGA: 4 Fenomena Alam Lain yang Juga Terjadi saat Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018
Dan di Yordania, dua jalur kereta api itu dihidupkan kembali. Para wisatawan dapat menumpang gerbong yang ditarik lokomotif uap melalui jalur rel yang membentang di padang pasir di Wadi Rum - jalur kereta yang pernah diserang Lawrence of Arabia.
Dan ada pula kereta api mingguan yang beroperasi sepanjang tahun dari Amman ke stasiun Al-Jizah, yang kebanyakan digunakan warga setempat untuk rekreasi.
Maka, jangan heran, pada Sabtu pagi, stasiun kereta api Hejaz Amman akan dipadati kaum ibu dengan anak-anaknya.
Kaum perempuan yang mengenakan jilbab dengan warna terang seraya membawa kantong makanan terlihat hilir mudik di stasiun itu. Sementara anak-anak bermain bola dan boneka.
Kami ikut menumpang kereta jurusan Amman ke Al-Jizah sejauh 35km, yang melaju dengan kecepatan maksimal 15km per jam, dan memakan waktu sekitar dua jam.
Hak atas foto Amanda Ruggeri
Tetapi perjalanan di atas jalur kereta kuno itu adalah intinya.
Ketika kereta perlahan meninggalkan stasiun, sebagian bocah memekik riang. Berkerumun di luar gerbong masing-masing, mereka menggantung di atas pagar, seraya menunjuk ke arah jalanan kota.
Ketika kereta berderik, merangkak pelan, melewati pinggiran kota Amman, panoramanya tidak bagus-bagus amat.
Uniknya, jalur kereta bersejarah ini kadang-kadang bersanding dengan jalan raya modern, atau terkadang pula memotongnya.