DIRESMIKAN pada tahun 1908, jalur kereta api Hejaz yang menghubungkan Damaskus ke Madinah, dibangun untuk mendekatkan Kekaisaran Ottoman dengan semua wilayah yang dilaluinya.
Walaupun perannya sudah tidak seperti masa lampau, jalur itu sekarang menjadi daya tarik turisme.
Menjulang di sisi jalanan berdebu, bangunan stasiun Amman yang dulu dilalui jalur kereta api Hejaz, tidak mudah dikenali.
Untuk menuju ke stasiun itu, Anda harus melalui jalanan mirip labirin yang mengelilingi pusat kota bersejarah, memutar di atas perbukitan, serta mengitari situs-situs termasyhur seperti benteng kuno dan bangunan peninggalan teater Romawi.
Hak atas foto Amanda Ruggeri
Perjalanan ke stasiun, yang berjarak kira-kira 5 km, bakal menyita waktu terutama karena kemacetan lalu lintas acap terjadi di ibu kota Yordania itu.
BACA JUGA: Waspada, Sering Konsumsi Lidah Buaya Bisa Picu Gagal Ginjal
Pada masanya, wilayah kekuasaan Kekaisaran Ottoman terhampar dari daerah yang kini disebut sebagai Bosnia-Herzegovina hingga Laut Hitam, Basra, serta Beirut.
Dan saat memasuki gerbang batu, Anda rasanya seperti memasuki era yang berbeda. Di sini, lokomotif uap masih menjadi raja.
Dan ada harapan yang menjulang tinggi bahwa jalur kereta api itu dapat menyatukan dunia Muslim.
Hak atas foto Amanda Ruggeri
Diperintahkan oleh Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1900, jalur kereta api Hejaz dibangun untuk memudahkan bagi jemaah haji saat menuju Mekkah.
Sebelumnya, mereka melakukan perjalanan selama berminggu-minggu, dan bahkan berbulan-bulan, dengan menunggangi unta.
Dengan menunggangi unta, dari Damaskus menuju Madinah, dapat menghabiskan waktu hingga 40 hari, sehingga banyak peziarah di masa itu yang meninggal dunia dalam perjalanan di padang pasir yang kering.
Sebaliknya, kehadiran jalur kereta api Hejaz itu dapat memperpendek perjalanan dari 40 hari menjadi lima hari.