Kuburan Tebing Toraja Ke'Te Kesu
Mengunjungi Ke'Te Kesu di Toraja Utara kurang lengkap jika tidak menyambangi kuburan batu. Terkesan horor memang ketika pertama kali mendengarnya, tapi jika sudah melihatnya sendiri, pasti akan takjub.
Lokasinya di belakang Ke'Te Kesu Rantepao, kira-kira jaraknya 100 meter dari Tongkonan tempat upacara yang saya datangi tadi.kita bisa menyusuri jalanan yang disiapkan untuk menuju area pemakaman. Saat saya berkunjung, gerimis namun terdapat sinar matahari menemani para turis yang hendak melihat pemakaman
Tidak lama, pandangan mata kita langsung tertuju pada sebuah bukit yang menjulang megah. Terdapat anak tangga yang mengantar kita menuju ke atas. Tapi, sebelum menaiki anak tangga, pandangan saya tertuju kepada sebuah bangunan yang mirip seperti rumah kayu.
Ternyata rumah tersebut digunakan sebagai tempat pemakaman yang orang Toraja bilang itu Patane. Bagian depannya terdapat ukiran batu cukup besar yang menyerupai matahari terbit. Tapi, kita tidak bisa masuk ke dalam Patane tersebut, karena kondisinya memang tertutup. Kita hanya bisa melihatnya dari luarnya yang megah.

Dikatakan oleh turis lokal yang orang asli Toraja, Levi, Patane memang tidak boleh sembarangan dibuka. Ada waktu-waktu khusus Patane boleh dibuka katanya. "Patane biasanya hanya dibuka waktu ada jenazah mau dikubur, kemudian harus setelah panen," ucapnya.
Meninggalkan bangunan Patane, saya menaiki anak tangga dengan cukup hati-hati, karena gerimis membuatnya sedikit licin untuk ditapaki. Baru awal menaiki anak tangga, kita langsung disuguhkan dengan beberapa peti yang diletakkan menggantung pada tebing. Beberapa peti bentuknya menyerupai perahu dengan sejumlah tengkorak di atasnya.
Pemandangan yang membuat mata terpana bagaimana betapa kentalnya adat istiadat dan tradisi dari leluhur yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Toraja. Terus menaiki anak tangga. kita masih belum dibuat berhenti melihat pemandangan sekeliling. Puluhan tulang belulang berserakan beserta tengkoraknya di peti yang sudah hancur.
Tulang belulang dan tengkorak memang menjadi pemandangan yang umum saat kita menaiki anak tangga. Hampir di setiap bebatuan tebing terlihat tulang belulang dan tengkorak berserakan dibiarkan begitu saja.