PLBN yang menjadi jalur pelintas teramai ini, bagi masyarakat Atambua memberikan pemgaruh yang besar. Selain banyak mendatangkan para wistawan mancanegara maupun domestik, juga bisa mempekerjakan warga sekitar.
"Dengan adanya PLBN membawa dampak baik yang positif terhadap masyarakat dengan menyerap tenaga kerja. Ada yang menjadi tenaga portir (membantu bawa tas barang pelintas) terus mereka kita kasih seragam khusus," kata dia.
Baca juga: Bukan Ukiran Biasa, Begini Makna Relief Candi Borobudur
Untuk memasuki kawasan PLBN dan melintasi zona perbatasan kedua negara yang masih serumpun ini, portal mulai dibuka pukul 08.00-16.00 WITA Namun, ada sesi jeda dalam pemberlakuan pelintasannya, yakni mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WITA, kemudian dibuka lagi pukul 13.00 sampai 16.00 WITA.

Seperti biasa, para pelintas tanpa membawa kendaraan harus melalui pihak imigrasi, kemudian dilacak lagi barang yang dibawa oleh pihak bea dan cukai menggunakan metal detector sembari menunjukkan paspor dan dokumen yang harus diisi terlebih dahulu.
Tetapi, bagi pengunjung yang hendak berfoto saja sekitar perbatasan kedua negara itu, pihak imigrasi telah menyiapkan tanda khusus. "Kita siapkan tanda pengenal visitor dengan meninggalkan identitas seperti KTP," ujar Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Lalu Lintas Keimigrasian Kelas II Atambua atau Koordinator Imigrasi di PLBN Aruk, Bagus Dwi Putra.
Baca juga: Mitos dan Fakta di Balik Megahnya Candi Borobudur, Percaya atau Tidak?
Bagus pun menilai, skema kerja keimigrasian saat ini lebih tersistem dan tertata dibandingkan bangunan pos lintas yang masih jadul dan belum dilengkapi teknologi pendukung.
"Perbedaan gedung lama dan gedung baru, saat ini PLBN Motaain telah hadir dengan wajah baru, tentunya ini akan berdampak pada perubahan. Jaman dulu tata kelola pemeriksaan tidak sebaik sekarang ini yang lebih tertib. Ditambah pengamanan dari TNI, polisi," jelasnya.
Ditambah lagi, pelintas yang melalui PLBN Motaain rata-rata per harinya bisa mencapai 150 orang. Mereka memanfaatkan lintasan tersebut untuk bertemu keluarga antar kedua negara, maupun adanya kegiatan sosial budaya atau upacara adat.
"Timor Leste sekitar 100 sampai 150 orang, warga Indonesia lebih sedikit 100 sampai 120 orang, wisatawan asing cuma 1 sampai 5 orang," sebutnya.
Bagi yang membawa kendaraan, ada pos tersendiri yang telah berdiri di sisi kanan dan kiri bangunan zona inti sehingga memudahkan pemeriksaan lebih detil. "Tentu ada perbedaan gedung lama dan gedung baru. Gedung lama dulu masih satu arah jika ada pemeriksaan kendaraan, dan sekarang sudah dipisah," jelas Bagus.
Dengan aktivitas di PLBN Motaain, pengelolaan PLBN Motaain dan PLBN lain baik di NTT, Kalbar dan Papua oleh BNPP sebagaimana amanat Perpres no 44 Tahun 2017 ttg BNPP sedangkan Tata Kelola PLBN di atur dalam Peraturan Kepala BNPP No. 7 Tahun 2017 ttg Pedoman Pengelolaan PLBN.
Corporate Sales Supervisor MNC Travel, Renny Eka Putri yang mengajak tim media MNC Group didampingi tim BNPP menilai, 1 dari 2 PLBN yang terbangun ulang di NTT, PLBN Motaain memang yang paling ramai dikunjungi pelintas dan juga wisatawan, oleh karenanya perlu adanya publikasi media kepada masyarakat untuk mengenalkan sisi perbatasan Indonesia-Timor Leste.
"PLBN Motaain merupakan pos perbatasan yang paling ramai dilalui oleh para pelintas batas dibandingkan dengan dua PLBN lagi yang ada di NTT, yaitu Motamasin dan Wini. Karena tidak hanya digunakan para pelintas batas, tapi juga dijadikan destinasi tujuan wisata baru oleh warga. Para pengunjung mulai dari anak-anak hingga dewasa berkerumun untuk berfoto di beberapa titik PLBN Motaain seperti di pintu gerbang utama pelintas yang bertuliskan Indonesia dan taman yang bertuliskan Motaain-Indonesia dan juga di beberapa titik lainnya. Tentunya peran media disini sangat penting untuk mengenalkan destinasi wisata perbatasan ini," tuturnya.
(Fakhri Rezy)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.