Ketika egoisme implisit menjadi bumerang
Tidak semua orang cocok bagi determinisme nominatif. Terutama orang menolak suatu elemen dari identitasnya sendiri. Pelham menemukan bahwa sejumlah kelompok demografi, termasuk minoritas rasial dan budaya di mana perempuan mengadopsi nama keluarga suami mereka ketika menikah, kecil kemungkinan mendapatkan sebuah pekerjaan yang persis dengan nama keluarga mereka.
Perempuan yang tidak mengikuti tren determinisme nominatif cenderung lebih tua, menjalani pernikahan untuk waktu yang lama atau menjanda, dan mereka menyukai profesi yang didominasi perempuan seperti koki. Dia mencatat bahwa pada data Sensus AS 1940, mayoritas koki bernama Cook (koki) merupakan perempuan, terlepas dari fakta bahwa terdapat tiga kali lipat pria dalam pekerjaan tersebut pada saat itu.
Pria berkulit hitam kecil kemungkinan memiliki karir yang serupa dengan nama mereka, juga, menunjukkan bahwa pria kulit putih akan mengasosiasikam diri pada sesuatu yang lebih menguntungkan, terutama pada tahun-tahun ketika nama etnik dipandang negatif. "Anda hampir menstereotipe diri anda sendiri," kata Pelham, menduga bahwa mereka mungkin "menjauh dari identitas etnik."
'Mengancam kehendak bebas'
Jadi, jika nama kita dapat mendorong kita mengambil keputusan dalam karir, seperti dugaan Pelham dan Limb, bagaimana dengan kehendak bebas?
"Jal itu merupakan pengkondisian yang klasik. Bukan merupakan hal spiritual atau mistis; melainkan prinsip psikologi," jelas Pelham. "Hal itu mengancam rasa kehendak bebas Anda. Saya tidak menganggap bahwa kami tak pernah memiliki kehendak bebas, namun terkadang kita memang tak memilikinya. Itu sungguh masuk akal."
(Abu Sahma Pane)