ANAK-anak yang dibesarkan dari keluarga broken home hidupnya lebih tegar dan mandiri. Hal ini membuktikan bahwa mereka tak melulu mengalami gangguan kesehatan mental, yang membuatnya tidak semangat menjalani hidup.
Umumnya, orang menganggap bahwa anak dari keluarga broken lebih cenderung nakal dan tindak-tanduknya buruk di hadapan orang lain. Tidak semuanya lho mereka mengalami hal ini.
Para peneliti telah menemukan hanya sebagian kecil anak mengalami dampak serius akibat orangtuanya bercerai. Kebanyakan justru anak-anak bisa bersikap lebih dewasa dan mandiri, serta melindungi dirinya sendiri dari kasus serupa saat sudah menikah nanti.
Dilansir Scientificamerican, Selasa (15/5/2018), dalam studi tahun 2002 yang dilakukan oleh Psikolog E Mavis Hetherington dari University of Virginia mengatakan, efek negatif jangka pendek dari perceraian yang paling sering dihadapi anak-anak yang mengalami kecemasan, kemarahan, terkejut dan tidak percaya diri.
Baca juga: Gogon Meninggal Dunia Karena Penyakit Jantung, Kenali 10 Faktor Risikonya
Namun, dampak itu biasanya berkurang saat dua tahun pasca-kejadian. Lalu, mereka akan lebih bangkit dan bersikap mandiri dalam menjalankan hidup.
Ada pula studi lainnya yang dilakukan oleh para peneliti dari Pennsylvania State University, membandingkan antara anak-anak korban perceraian dan anak-anak yang dibsesarkan dari keluarga utuh. Para peneliti mengikuti kehidupan anak-anak broken home dari masa kanak-kanak hingga remaja.