BERDASARKAN data Kementerian Kesehatan, angka prevalensi rokok di Indonesia mengalami peningkatkan mencapai 27% pada tahun 1995. Angka ini terus bertambah hingga menjadi 36,3% di tahun 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia tengah mengalami suatu kondisi yang biasa disebut dengan istilah "darurat rokok".
Menurut Dr. drg. Amaliya, Ph.D, Ketua KABAR sekaligus peneliti di YPKP Indonesia, sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok aktif terbesar di dunia, edukasi kepada masyarakat sangat penting dilakukan secara bertahap untuk menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.
"Sosialiasi atau edukasi itu penting. Penyakit yang ditimbulkan oleh rokok itu tidak akan dirasakan secara langsung, namun dalam jangka panjang. Contohnya, 90 % pasien dengan kanker paru memiliki riwayat sebagai perokok saat masih dalam usia produktif (muda). Dalam beberapa kasus yang saya temukan, efek samping dari rokok ini ada juga yang baru terjadi 20 tahun kemudian," tutur Amaliya, dalam sebuah diskusi bersama KABAR (Koalisi Indonesia Bebas TAR).
Lebih lanjut Amalya menjelaskan, selama ini masyarakat Indonesia hanya mengetahui bahaya rokok dari kandungan nikotinnya yang tinggi. Namun jika ditelaah lebih jauh, setidaknya ada 6.000 bahan kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran rokok.
Baca Juga: Koleksi Teranyar Patrick Owen Tonjolkan Sisi Freedom of Creation yang Apik di JFFF 2018