Sebagaimana yang tertulis dalam sumber, sampah-sampah plastik yang ada di Pulau Henderson ternyata berasal dari arus laut yang berputar antara Australia dan Amerika Selatan, yang dibatasi oleh Khatulistiwa. Pola rotasi gyre menarik sampah dari seberang Samudera Pasifik Selatan dan benua-benua jauh lainnya, kemudian singgah di Pulau Henderson.
Para peneliti memperkirakan ada sekira 38 juta plastik dengan berat total 18 ribu kilogram yang tersebar di perairan pulau itu. Sebagian besar sampah sekira 68 persennya tidak nampak di permukaan karena terkubur di bawah pasir.
Mirisnya, seorang peneliti bernama Jennifer Lavers berhasil mengabadikan seekor kepiting hermit ungu (kelomang) sedang berjalan dengan cangkang tutup botol plastik. Plastik-plastik yang ada di Pulau Henderson kabarnya cepat rapuh karena radiasi sinar UV matahari, kemudian pecah menjadi ribuan keping, lalu terkubur di pasir dan menjadi bagian permanen dari pulau itu.
Melihat Pulau Henderson seharusnya bisa membuat manusia merasa ditegur alam, karena begitu banyak sampah plastik yang ada di laut, yang berpotensi merusak ekosistem.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.