PEMAKAIAN kemasan makanan berbahan busa polistirena atau dikenal dengan Styrofoam, masih menjadi isu hangat di Indonesia. Dua tahun terakhir, banyak pihak membahas tentang baik dan buruknya pemakaian kemasan ini. Dalam mempertimbangkan apakah kemasan ini adalah kemasan terbaik dari segi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi, berikut adalah fakta-fakta yang perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia.
1. Kemasan yang cocok untuk pengiriman makanan segar
Karena sifatnya yang kokoh, ringan, dan dapat “mengisolasi” dengan baik, kemasan ini cocok digunakan dalam pengiriman makanan segar. Kemasan berbahan busa polistirena dapat menahan dingin di dalamnya dalam waktu yang lama, sehingga dapat menjaga bahan makanan yang sensitif dengan perubahan suhu (temperature-sensitive) tetap segar. Itulah sebabnya mengapa pengiriman lobster segar kerap menggunakan kemasan ini.
2. Kemasan makanan paling ekonomis
Harga satuan kemasan ini biasa dibanderol sebesar Rp200-300. Untuk pedagang kaki lima, harga ini sangat ideal. Karena murah, mereka tidak perlu membebani konsumen. Beda halnya dengan di Bandung yang dalam 2 tahun terakhir diimbau untuk mengganti kemasan makanan ini dengan yang berbahan kertas oleh pemerintah setempat. Harga kemasan pengganti itu adalah Rp1600-2.000 ribu dan pasti dibebankan kepada konsumen. Hal ini berimbas dengan angka penjualan yang semakin menurun karena konsumen menjadi enggan membeli. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan pedagang kaki lima.