Menjelajah Air Terjun Tingkis Sakti Setinggi 99 Meter
Pagi itu matahari mulai menampakkan diri. Cuacanya berawan, udaranya sejuk, dan hembusan angin sepoi-sepoi. Masyarakat desa sudah pergi mengais rezeki ke kebun. Tidak ada suara kendaraan lalu lalang di desa dengan penduduk 753 jiwa ini.
Jauh dari kebisingan. Apalagi polusi udara. Hanya sesekali terdengar suara sepeda motor berknalpot racing. Mereka ke kebun kopi dan ke areal lahan persawahan. Tidak termasuk Sudarmono, kades Sekalak.
Dia duduk santai di teras rumahnya. Mengenakan baju kaus dan celana pendek. Sudarmono menunggu warganya mengantarkan syarat pemasangan jaringan aliran listrik dari PLN. Sesekali dia menghirup air kopi diatas meja.
Rumah pria kelahiran tahun 1980 itu tidak terlalu besar. Mayoritas bangunannya berbahan kayu. Dia tinggal bersama istri dan buah hatinya yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
Untuk menuju destinasi tersembunyi di hutan belantara Kabupaten Seluma, Air Terjun Tingkis Sakit, dari rumah perangkat desa ini memakan waktu sekira 1,5 jam. Di tempuh dengan jalan kaki dan medannya yang menantang. Tanjakan bercampur tanah kuning.
Sekira 500 meter berjalan atau lepas dari pemukiman penduduk. Suasana asri, sejuk mulai dirasakan. Dengan di kelilingi pepohonan menjulang tinggi. Jalannya setapak, hanya cukup satu kendaraan roda dua.
Sisa-sisa embun pagi masih menempel di tanah dan dedaunan, membuat jalan licin. Tak jarang di perjalanan terlihat areal perkebunan milik warga, tanaman kopi. Namun, tidak mengubah suasana alam nan asri yang di miliki desa berpenduduk 753 jiwa tersebut.
Di perjalanan pun wisatawan menemukan anak sungai yang tidak terlalu besar. Airnya dingin dan ada jalan berbatasan dengan jurang cukup dalam. Mengarunginya pun tak dapat di hindari. Nyanyian suara hewan bersayap pun terdengar jelas.
Sekira satu jam perjalanan, wisatawan tiba di salah satu pondok milik warga. Dari kejauhan terlihat pepohonan menjulang tinggi. Bahkan di sekeliling pondok ini, begitu juga tanaman kopi.
"Air terjunnya ada di bawah, masih jauh," kata Madsun (70), warga Desa Sekalak, sekaligus guide, sembari menunjuk ke arah bawah jalan menuju air terjun.
Dari pondok itu perjalanan kembali dilanjutkan agar tiba di air terjun, 30 menit kira-kira. Jalannya menurun, licin dan terjal. Tak jarang wisatawan memegang akar, sebagai penahan saat berjalan. Berbagai tanaman hutan tumbuh di kawasan ini.
Termasuk, pohon berdiameter satu hingga dua meter, bahkan lebih. Jalan menuju air terjun dengan ketinggian sekira 99 meter dan penuh semak belukar. Sekira dua puluh menit berjalan menyusuri hutan, wisatawan tiba di lembah.
Batu berukuran besar, pohon tumbang, ada di lembah ini. Dari sini terdengar suara deburan air jatuh ke dalam kolam air terjun, kencang suaranya. Di sarankan wisatawan mempersiapkan makanan ringan dan air mineral ketika menyambangi Air Terjun Tingkis Sakti.
Di kawasan ini wisatawan dapat beristirahat sejenak. Perjalanan menuju destinasi tersembunyi di Desa Sekalak, sudah di depan mata. Di lokasi ini terdengar suara gemericik air dari anak sungai dari aliran sungai ujung rembun.
Tak kurang dari 10 menit wisatawan tiba di air terjun. Konon, air terjun itu tertinggi di Bengkulu. Sebelum tiba, berjalan di atas pohon tua yang tumbang karena termakan usia dan licin.
Berjarak sekira 20 meter, ketinggian air terjun dan gemericik suara air jatuh deras. Embun air dari kolam air terjun beterbangan dihembus angin. Menempel di dedaunan pohon dan lumut di tebing batu cadas di sisi kiri dan kanan yang mengapit air terjun.
Air terjun ketinggian sekira 99 meter itu, berasal dari air bukit pematang ujung embun. Air terjun itu mengalir ke aliran sungai ujung rembun hingga ke Sungai Sekalak. Di sekitar air terjun, berbagai jenis pohon menjulang tinggi, berukuran kecil, sedang hingga besar.
Batu cadas mengapit air terjun dengan tinggi yang setara. Di bagian bawah air terjun, ada kolam berdiameter sekira 20 meter. Kedalaman air tidak begitu dalam. Di bagian tengah, ada batu besar, airnya jernih dan dingin.