FESTIVAL Kora Kora sukses menghentak Kota Ternate, Maluku Utara. Festival tahunan yang digelar ketujuh kalinya ini dipusatkan di landmark kota Ternate.
Landak bertuliskan nama kota Ternate berukuran besar dan sebuah tugu dengan bola dunia berwarna perak di ujungnya terletak di tepi laut. Di sinilah warga berkumpul untuk menyaksikan festival kebanggaan mereka.
Festival Kora Kora dibuka dengan tarian kolosal kora kora yang dibawakan oleh sekira 45 penari. Mereka mengenakan busana tradisional berbagai warna, mulai dari kuning, merah, perpaduan hijau dan oranye, serta putih dan ungu. Para penari perempuan mengenakan jilbab, sementara laki-laki menggunakan penutup kepala seperti peci.
Mereka menari di depan landmark Ternate dengan latar belakang laut dan Pulau Tidore. Diiringi alunan musik tradisional, tifa dan lagu tradisional, para penari melakukan tugasnya.
Festival Kora Kora yang didukung oleh Kementerian Pariwisata masih mengusung tema besar yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni bahari. Kora Kora sendiri berasal dari nama perahu yang digunakan pasukan perang Ternate untuk mengusir penjajah di zaman dulu.
Wali Kota Ternate, Burhan Abdurahman mengatakan, festival ini lahir dari latar belakang Ternate yang sebagian besar wilayahnya adalah laut. Ia berharap Festival Kora Kora bisa menjadi daya tarik bukan hanya saja untuk Ternate, tetapi juga negara untuk menarik wisatawan mancanegara.
"Di masa kesultanan masa lalu, perahu kora kora adalah alat transportasi laut yang dipakai untuk berperang. Ini membangkitkan kembali semangat perjuangan di masa lalu," ungkapnya di Landmark Ternate, Ternate, Maluku Utara, Sabtu (2/12/2017).
Sementara itu, Kepala Bidang Analisis Data Pasar Wisata Buatan Kementerian Pariwisata, Hanif berharap Ternate dapat menginspirasi kota-kota lainnya di Indonesia untuk menggelar kegiatan yang berpotensi mendatangkan wisatawan.
Sebagai daerah penghasil rempah-rempah di masa lalu yang menjadi sasaran bangsa Portugis, keunikan dan alam yang eksotik Ternate diharapkan dapat membawa banyak orang Portugis ke Indonesia dengan tujuan berwisata.
"Jika dahulu orang Portugis datang mencari rempah-rempah, semoga mereka datang ke sini lagi tapi untuk berwisata menikmati keindahan alamnya," ujar Hanif.
Selain memiliki banyak potensi wisata, Ternate juga pintu gerbang wisatawan ke Maluku Utara. Sehingga banyak wisatawan yang singgah di Ternate sebelum pergi ke daerah tujuannya, seperti Morotai, Halmahera, dan Tidore.
"Mungkin ada destinasi lain seperti ke Morotai atau Tobello, pasti mereka akan lihat Ternate. Bisa transit dulu di Ternate, karena yang paling lengkap akses dan amenitasnya adalah di Ternate," jelas Kepala Dinas Pariwisata Maluku Utara, Syamsuddin Abdul Kadir.
Tahun ini, Maluku Utara sendiri ditargetkan menarik 511 ribu kunjungan wisatawan. Angka sebesar itu dipatok oleh Kementerian Pariwisata berdasarkan geliat pariwisata yang ada di Pulau Morotai.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Ternate, Samin Marsaoly menjelaskan bahwa Festival Kora Kora adalah salah satu festival terbesar di Ternate. Festival ini digelar sebagai salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan sejak zaman dahulu.
"Ada otiside, itu ciri khas nelayan Ternate zaman dulu. Sekarang sudah mulai punah, karena itu kita coba mengangkat untuk menjadi edukasi bagi generasi selanjutnya," jelasnya.
Festival Kora Kora juga dimeriahkan dengan lomba perahu hias, permainan bambu gila, hingga pameran kuliner.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.