Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

UNCOVER INDONESIA: Sejarah Panjang Istana Tampaksiring dan Tirta Empul yang Tak Terpisahkan

UNCOVER INDONESIA: Sejarah Panjang Istana Tampaksiring dan Tirta Empul yang Tak Terpisahkan
A
A
A

Tampaksiring dan Tirta Empul

Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali yaitu tampak (telapak) dan siring (miring). Konon, menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa.

Raja Mayadenawa pandai dan sakti, tetapi sayangnya ia memiliki sifat angkara muka. Raja ini juga menganggap dirinya dewa dan menyuruh rakyatnya untuk menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra selaku pemimpin para dewa pun marah dan mengirimkan bala tentaranya untuk menghancurkan Mayadenawa.

Mayadenawa pun lari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu ialah jejak manusia/jejaknya.

Bagaimanapun, akhirnya usaha Mayadewana gagal, dan ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut.

(Baca Juga: VIRAL! Pria Berkaki Satu Ini Sukses Jadi Apa Saja, Mulai Lampu Hias hingga Flamingo)

Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut dengan cara menancapkan umbul-umbul tiang suci yang dibalut kain ke tanah, ketika umbul-umbul dicabut dari lobangnya keluar air bersih untuk pemusnah racun. Air penawar racun itu kemudian bernama Tirta Empul (air suci).

Saat dipercikan kepada pasukan Batara Indra maka seorang demi seorang pun hidup lagi. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Tampaksiring.

Dari legenda itu maka tak heran Istana Tampaksiring dan pura Tirta Empul seolah tak terpisahkan.

Tirta Empul hanya terletak beberapa puluh meter di lembah sebelah utara istana. Dengan menuruni lebih dari seratus anak tangga kompleks istana, Tirta Empul dicapai langsung dari Wisma Merdeka. Tapi tamu negara tidak perlu jauh-jauh ke Tirta Empul sebab air yang digunakan di istana dipompa ke atas dari sumber mata air itu.

Soedarsono, sang arsitek Istana Tampaksiring, menggunakan pipa-pipa sebagai susuran (railing) di beberapa teras. Sekilas tampak seperti susuran padahal sebetulnya pipa-pipa itu juga berfungsi sebagai saluran air.

Menurut riwayatnya, di salah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring yang menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itu sekarang berdiri Wisma Merdeka, bagian Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Karena Istana Tampaksiring dan Tirta Empul merupakan dua tempat yang tak terpisahkan maka masyarakat pun diberikan akses menuju pura Tirta Empul.

"Wujud kecintaan Presiden Sukarno terhadap masyarakat Bali adalah dengan tetap memberikan akses ke masyarakat menuju Pura Tirta Empul. Jalan tersebut berada di bawah Jembatan Persahabatan yang tersambung dengan terowongan menuju banjar atau desa," kata Kepala Subbagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Tampaksiring I Nyoman Gde Suyasa.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement