Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

UNCOVER INDONESIA: Sejarah Panjang Istana Tampaksiring dan Tirta Empul yang Tak Terpisahkan

UNCOVER INDONESIA: Sejarah Panjang Istana Tampaksiring dan Tirta Empul yang Tak Terpisahkan
A
A
A

Sukarno pun menginginkan adanya tempat peristirahatan bagi para pemimpin negara dan pemerintahan beserta keluarga mereka ketika berkunjung ke Bali.

Tidak ada satu bangunan megah yang tampak bak istana dengan pilar-pilar besar dan lampu kristal seperti kelima istana kepresidenan lainnya. Kompleks istana Tampaksiring malah dirancang berupa wisma-wisma peristirahatan dan pertemuan yang fungsional dan sederhana.

Bagian luar wisma membawa wajah seperti rumah Bali dengan tiang serta sudut dilengkapi dengan ukiran timbul dari batu karang batu paras. Dinding dalam berupa tembok dengan teterawangan (ukiran timbul) di beberapa tempat, sedangkan atasnya berua kepingan papan tipis-tipis tanpa naungan yang megah.

Jarak wisma yang satu dengan wisma yang lain juga cukup jauh, terpencar di atas lahan seluas 19 hektar karena memang bangunan istana dibuat secara bertahap di atas lahan bekas pesanggrahan Raja Gianyar yang dirobohkan. Memang pada masa Raja Gianyar V dan VI, pesanggrahan itu banyak dimanfaatkan oleh para tamu asing, khususnya pejabat pemerintah Hindia Belanda.

Arsitek yang ditunjuk dalam pembangunan ialah R.M. Soedarsono di bawah pengawasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum seksi Gianyar Tjokorde Gde Raka. Bangunan pertama berdiri pada 1957 yaitu Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira. Pembangunan berikutnya dilaksanakan pada 1958 hingga 1960.

Total ada lima gedung utama, 2 pendopo dan 1 ruang konferensi yang dibangun belakangan pada era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka dan Wisma Negara, tiga gedung utama lainnya adalah Wisma Yudhistira, Wisma Bima dan Balai Wantilan.

Wisma Merdeka adalah wisma seluas 1.200 meter persegi yang berfungsi untuk menerima tamu negara. Di dalamnya ada ruang tidur, ruang tamu dan ruang kerja lengkap dengan patung-patung khas Bali, lukisan tradisional Bali serta perabotan.

Dari sebelah kiri ruang tamu ke arah kaki bukit terlihat kompleks pura Tirta Empul yang anggun dan penuh kedamaian. Riwayat terjadinya Tirta Empul (air suci) ini direkam ke dalam hiasan relief khas Bali di dinding kanan serambi belakang wisma.

Di taman belakang Wisma Merdeka tersembul di antara tanaman satu patung kecil warna putih yang tingginya tak sampai 1 meter berada di depan kolam ikan. Patung yang menggambarkan seorang anak laki-laki yang sedang berusaha mencabut duri yang menancap di telapak kaki kirinya sembari duduk diberi nama patung "Tusuk Duri" buatan seniman Italia tahun 1957.

Berada di sisi bukit di seberang Wisma Merdeka ada Wisma Negara seluas 1.482 meter persegi. Dua bukit yang menopang kedua wisma itu dipisahkan oleh celah bukit yang cukup dalam yaitu sekitar 15 meter. Bagian utama Wisma Negara juga sama dengan bagian utama Wisma Merdeka. Dinding barat ruang tamu Wisma Negara juga dikisahkan riwayat Tirta Empul.

Antara Wisma Merdeka dengan Wisma Negara dihubungkan jembatan penghubung sepanjang 40 meter dan lebar 1,5 meter dengan tinggi 20 meter. Tamu-tamu negara yang datang berkunjung untuk membina persahabatan, selalu diantar melalui jembatan ini. Itulah sebabnya, jembatan berukir artistik itu disebut Jembatan Persahabatan.

Di Wisma Negara ini juga akan nampak pemandangan Tirta Empul, desa Manuk Air dan Manuk Kaya. Di bukit samping Wisma Negara juga tumbuh pohon leci yang rindang. Di bawah pohon ceri itulah Presiden Susilo Bambang Yudoyono sempat menciptakan lagu mengenai Istana Tampaksiring berjudul "Dendan di Malam Purnama".

Di lembah, pengelola istana membuat jalanan aspal bagi penduduk desa dan sekitarnya untuk lalu lalang dari dan ke pura Tirta Empul. Mereka juga boleh melewati jalan pekarangan istana sebelah utara pada waktu upacara Piodalan di Tirta Empul sembari menjunjung sesaji karena pantang bagi warga untuk lewat di bawah jembatan persahabatan dengan membawa persembahan sebab artinya dilangkahi orang.

Istana pun akhirnya bukan menyimbolkan kekuasaan tapi bagaimana hubungan rakyat dengan presiden pilihan mereka.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement