Ia mengatakan, Slow Food selaku gerakan akar rumput global memiliki impian sebuah dunia di mana semua orang dapat mengakses dan menikmati makanan yang baik untuk mereka, baik bagi mereka yang menumbuhkannya dan baik untuk planet ini.
"Slow Food melibatkan lebih dari 160 negara dari seluruh dunia bergandengan tangan sebagai aktivis, koki, pakar, pemuda, petani, nelayan dan akademisi, Slow Food merupakan suatu gerakan yang memandang bahwa semua terkait dengan pangan dari hulu ke hilir merupakan proses yang harus berprinsip pada Fair, Good, and Clean," katanya.
(Baca Juga: Foto Perdana Menteri Jepang saat Makan Es Krim Bikin Heboh)
Prinsip ini, kata dia, untuk mewujudkan makanan yang berkualitas dan berkelanjutan (sustainable quality food) yang harus didapatkan pada setiap orang.
"Sejak Oktober 2017, Slow Food, dengan 'Menu For Change' menunjukkan solusi konkret untuk konsumsi sehari-hari yang lebih berkelanjutan. Untuk tujuan ini, Hari Pangan Sedunia akan menandai dimulainya tahap partisipasi awal dengan kampanye, 'Eat Local Challenge'. Gerakan ini diharapkan memotivasi orang-orang untuk makan selama tiga minggu secara eksklusif, makanan lokal yang ada pada saat ini yang dibuat produsen skala kecil, dan untuk berbagi resep dan pengalaman mereka," katanya.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.