Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hati-Hati, Meng'kretek' Leher Setelah Cukur Rambut Berisiko Alami Kelumpuhan!

Helmi Ade Saputra , Jurnalis-Jum'at, 22 September 2017 |15:03 WIB
Hati-Hati, Meng'kretek' Leher Setelah Cukur Rambut Berisiko Alami Kelumpuhan!
Pijat leher di tukang cukur rambut (Foto: Sangbadpratidin)
A
A
A

Dr Anand Jaiswal mengatakan, diafragma Kumar lumpuh dan mungkin memerlukan dukungan ventilator sepanjang hidupnya, karena saraf jarang kembali secara spontan. Karena itu, Dr Anand Jaiswal memperingatkan orang-orang agar tidak memijat lehernya saat ke barber shop.

"Pijat leher dan tengkuk leher yang dilakukan tukang pangkas rambut dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada sendi leher dan jaringan sekitarnya, otot atau saraf, bahkan menyebabkan kelumpuhan diafragma seperti dalam kasus ini," imbuh Dr Anand Jaiswal.

Ketidaknyamanan sering dikaitkan dengan tidak berfungsinya jantung atau paru-paru. Ketika Kumar datang ke Medanta dengan masalah tersebut sekira 1 bulan yang lalu. Dokter mengatakan bahwa mereka melakukan serangkaian tes untuk mendiagnosis masalah tersebut saat merawatnya, karena dugaan penyebab lain. Ketika masalah berlanjut, mereka melihat literatur medis untuk mendapatkan petunjuk.

"Saat memeriksanya, kami melihat Kumar memiliki pola pernapasan yang paradoks. Dadanya bergerak ke arah dalam, bukannya melebar. Gerakan dada yang abnormal ini memengaruhi pola pernapasan dan menyebabkan penurunan kadar oksigen di darah," jelas Dr Anand Jaiswal.

"Ketika kami menyelidiki kemungkinan penyebab bernapas paradoks, pemeriksaan neurologis menunjukkan, Kumar menderita saraf frenik yang rusak. Karena dia tidak memiliki penyakit lain untuk menjelaskannya, dan literatur memiliki beberapa contoh tentang keretakan leher yang menyebabkannya. Masalahnya, kami menanyai Kumar dan mendapati bahwa pijatan leher yang menyebabkan kondisi ini," tambah Dr Anand.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement