Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Parompa Sadun, Budaya Khas Tapanuli Selatan Tenunan Boru Regar

Liansah Rangkuti , Jurnalis-Minggu, 10 September 2017 |14:43 WIB
OKEZONE WEEK-END: Parompa Sadun, Budaya Khas Tapanuli Selatan Tenunan Boru Regar
Parompa Sadun (Foto: Liansah Rangkuti/Kontributor)
A
A
A

SEJARAH PAROMPA SADUN

Menurut Arin Batubara, pada masa nenek moyang, kehidupan masih sangat sederhana atau primitif, mereka telah memikirkan apa saja yang ada di alam ini, terutama perhatian mereka kepada yang menyangkut kehidupan.

Baik kehidupan manusia itu sendiri maupun kehidupan hewan dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di alam ini.

BACA JUGA:

Perhatian mereka, dipandang dari berbagai macam segi, yang utama adalah soal keajaiban yang sangat berpengaruh, seperti daun-daunan atau tumbuh-tumbuhan yang dapat menjadi obat untuk menyembuhkan penyakit.

Pohon-pohon sebagai tempat pelindung. Demikian pula dari berbagai jenis hewan yang tenaganya luar biasa, yang sangat sayang kepada anaknya, yang selalu membela dan tidak segan-segan mengadakan perlawanan.

Maka dari sinilah diperlambangkan jiwa atau watak seorang manusia, atau kehidupan duniawi, yang dianggap luar biasa atau keistimewaan tersendiri. Dan lambang tersebut digunakan untuk pakaian, untuk menunjukkan kesaktian atau keagungan seseorang.

Terkadang kita juga masih menemukan saudara-saudara kita yang masih terbelakang atau primitiF pada masa sekarang, seperti menggunakan bulu burung dikepalanya, ada yang membuat taring binatang buas sebagai kalung nya, yang menunjukkan mereka adalah orang-orang yang pemberani berburu dan berperang.

Pandangan dan penghayatan semasa nenek moyang dalam upacara, bagi orang yang dipandang sakti disegani, dianugerahilah penghargaan dan sanjungan, dengan menghadiahkan benda-benda untuk dipakai sebagai pertanda kesaktian bagi seseorang. Seni sederhana sudah berkembang semasa nenek moyang sebagai pengertiannya, seni ialah rasa indah, menyenangkan ,dan memenuhi kehidupan manusia.

Untuk menggambarkan kebesaran dan kesatian ini nenek moyang di daerah tapanuli selatan, mulailah menggambar atau mengukir lambang yang bernilai ini pada kulit-kulit kayu. Semakin maju pemikiran nenek moyang kita itu, mereka mulai pandai menenun kain dari bahan kapas, kemajuan ini semakin meningkat dan terarah, maka perlambangan-perlambangan yang dianggap baik dan terhormat digambarkanlah corak atau motif pada kain yang ditenun.

Sehingga kain mempunyai corak ornamen atau motif yang mempunyai derajat atau nilai penghormatan yang tinggi.

Dan penggunaannya diberikan kepada seseorang yang merupakan penghargaan dan penghormatan dengan upacara adat tradisional. Kain inilah yang yang mempunyai nilai budaya yang tinggi dipandang masyarakat secara adat.

Kemudian terkenal dengan kain adat, yang dinamakan abit Batak, atau abit Godang atau Ulos ni Tondi. Dan kain ini digunakan menurut adat.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement