Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Parompa Sadun, Budaya Khas Tapanuli Selatan Tenunan Boru Regar

Liansah Rangkuti , Jurnalis-Minggu, 10 September 2017 |14:43 WIB
OKEZONE WEEK-END: Parompa Sadun, Budaya Khas Tapanuli Selatan Tenunan Boru Regar
Parompa Sadun (Foto: Liansah Rangkuti/Kontributor)
A
A
A

Parompa Sadun adalah kain tenun tradisonal suku Batak Angkola, yang menjadi ciri khas di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Parompa dalam arti sebenarnya adalah kain panjang, namun biasanya sering diucapkan oleh orang batak yakni paroppa.

Kain ini berukuran kurang lebih 100 x 200 cm, dihiasi dengan manik-manik dan rumbai di ujung kain, dengan tenunan motif khas.

BACA JUGA:

Kain adat ini biasanya diberikan oleh orangtua kepada seorang wanita yang baru saja dianugrahi anak pertama. Sedangkan upacara pemberian kain adat ini, disebut Mangalehen Parompa (menyerahkan kain panjang-red),

"Parompa itu di pakai atau digunakan hanya di acara adat istiadat angkola, seperti acara bersanji untuk bayi yang baru lahir atau acara pernikahan, bukan kain gendong sehari-hari" kata Arin Batubara (50), warga Sayaur Matinggi Tapsel kepada Okezone, belum lama ini.

Kain adat ini diselempangkan di bahu kedua orangtua bayi, seolah-olah dipakai untuk menggendong. Pada waktu upacara seperti acara adat Batak lainnya, hadir pihak-pihak yang disebut Dalihan na Tolu, yaitu pihak dari keluarga suami (kahanggi), keluarga dari pihak istri (Mora) dan keluarga dari pihak saudara wanita atau suami dari saudara wanita (anak boru).

Pemberian kain ini disertai nasihat dan doa dari semua yang hadir secara bergantian. Hal ini bertujuan agar kelak anak yang baru dilahirkan, akan menjadi anak yang berguna, yang merupakan perwujudan rasa syukur keluarga besar akan kehadiran anggota keluarga baru.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement