Mau gimana lagi, begitulah faktanya. Alhasil, setelah tahu itu, Tjammy dan tim CTI mencoba mendatangi penenun Sambas yang masih tinggal di Sambas. Sebab, beberapa dari mereka akhirnya harus tinggal di luar Indonesia. Memberikan penjelasan mengenai penenunan dan mendapatkan uang dari itu.
’’Awalnya kami beli kainnya. Tapi, lama kelamaan kami beri mereka pembelajaran. Mulai dari pewarnaan, cara menjual, membuat tas kertas, sampai pencatatan. Kami juga promosikan kain Tenun Sambas di Jakarta,’’ papar Tjammy.
Selendang Songket Limar asal Mentok, Bangka (Foto: Istimewa)
Dengan upaya tersebut, lanjut Tjammy, akhirnya banyak penenun yang sudah dibajak mau kembali ke tanah air. Mau mengabdikan dirinya pada Indonesia. Tidak lagi menenun kain Malaysia atau Brunei Darusalam. ’’Pas dengar satu lolos dari jeratan Malaysia dan Brunei, itu perasaan saya bahagia sekali. Seperti menyelamatkan nyawa manusia saja,’’ tambahnya.
Sejak saat itu, CTI terus berupaya untuk memberdayakan penenun yang mungkin jauh dari kata cukup. Penenun yang masih belum dilihat hasil kain ciptaannya. Sampai sekarang, kalau masih ada yang bisa Tjammy lakukan untuk penenun, dia akan lakukan. ’’Ada kebahagiaan tersendiri jika melihat ada penenun yang sekarang sudah sukses,’’ pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.