Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Bukti Cinta Kolektor Kain Nusantara, Bukan Hanya Beli!

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Sabtu, 09 September 2017 |13:00 WIB
OKEZONE WEEK-END: Bukti Cinta Kolektor Kain Nusantara, Bukan Hanya Beli!
Seniman Sjamsidar Isa (Foto: Istimewa)
A
A
A

MENJADI kolektor kain nusantara bukan sekadar mereka yang mau mengumpulkan banyak kain dari penjuru Indonesia. Begitu yang diutarakan Seniman Sjamsidar Isa. Perempuan 71 tahun itu menjelaskan, ada hal lain yang bisa dilakukan kolektor kain nusantara sebagai wujud kecintaannya pada kain.

Ibu dari selebriti Aida Nurmala itu menuturkan, membeli kain berarti Anda membantu kehidupan si penenun. Itu benar, namun ada hal lain yang bisa dilakukan dari sekadar membeli kain nusantara. Menurut Tjammy, sapaan akrabnya, pencinta kain bisa berkontribusi langsung pada perubahan kehidupan si penenun.

(Foto: Istimewa)

’’Kelompok pencinta kain itu banyak. Namanya di mana-mana, tapi saya tidak yakin apakah mereka berbuat lebih ke penenunnya langsung,’’ ungkapnya langsung ke Okezone di Qubicle Center, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

BACA JUGA:

Tjammy melanjutkan, salah seorang kolektor kain nusnatara yang saya kenal adalah istri dari mantan Menteri Alm. Frans Seda, Johanna Maria Pattinaja Seda. ’’Ibu Frans Seda (sapaan akrba Tjammy pada Joanna, Red) itu koleksi kainnya banyak sekali. kain Tenun NTT-nya saja sekitar 1.000 kain. Karena menjadi seorang istri menteri, kesempatan dia untuk bisa melihat langsung para pengrajin itu banyak sekali. Makanya, keuntungan itu yang sulit rasakan,’’ lanjutnya lantas tertawa kecil.

Sarung Batik Kedungwuni Pekalongan Karya Oey Soe Tjoen (Foto: Istimewa)

Koleksi kain Joanna, sambung Tjammy kebanyakan tenun ikat Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia sudah mengoleksi kain sekitar 49 tahun sampai akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya pada 23 Maret 2015.

Bicara mengenai Joanna, tidak akan jauh dari kecintaan dia dengan kain NTT. Sekali lagi, bukan hanya hobi membeli, Joanna berlaku lain pada para pengrajin. Dia menciptakan Himpunan Wastra Prima pada 1980. Upayanya sederhana, agar kain Tenun NTT tetap lestari tidak seperti kain ikat Manado yang tidak ada lagi karena tidak ada yang bisa membuatnya.

Sejalan dengan Joanna, Tjammy pun begitu. Dirinya tidak sekadar mengumpulkan kain. Dirinya pun ikut tergabung dalam Cita Tenun Indonesia (CTI). Tujuannya jelas yaitu agar kain nusantara tetap lestari dan terjaga dengan baik aset bangsa tersebut.

’’Kami aktif dalam memberikan pemahaman lebih mengenai bisnis kain nusantara ini ke pengrajin. Mereka disadarkan untuk mengetahui dunia dan bagaimana bisa terlibat di dalamnya,’’ terangnya. Salah satu bentuk nyata, diceritakan Tjammy, adalah saat timnya pergi ke Sambas, Kalimantan Barat.

Batik Indonesia motif Terang Bulan Sawat Karya Bintang Soedibjo (Foto: Istimewa)

Di sana, ternyata banyak penenun yang dibajak negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darusalam. ’’Kondisi tersebut membuat kita miris. Tapi, kita juga nggak bisa berbuat apa-apa. Faktanya memang begitu, mereka jauh dari tangan Indonesia, dan dijemput tangan asing,’’ paparnya.

BACA JUGA:

Jadi, banyak dari penenun Sambas yang akhirnya bekerja di Serawak, Malaysia, atau di Brunei. Mereka memilih itu karena tuntutan ekonomi. Mengandalkan penjualan kain sangat tidak mungkin. Nah, oknum Malaysia dan Brunei ini datang dengan tawaran menjanjikan. Rp 1,8 juta sampai Rp 2 juta perbulan mereka dapatkan dari hasil menenun. Berapa pun jumlah kain yang dibikin, ya, gajinya segitu.

Mau gimana lagi, begitulah faktanya. Alhasil, setelah tahu itu, Tjammy dan tim CTI mencoba mendatangi penenun Sambas yang masih tinggal di Sambas. Sebab, beberapa dari mereka akhirnya harus tinggal di luar Indonesia. Memberikan penjelasan mengenai penenunan dan mendapatkan uang dari itu.

’’Awalnya kami beli kainnya. Tapi, lama kelamaan kami beri mereka pembelajaran. Mulai dari pewarnaan, cara menjual, membuat tas kertas, sampai pencatatan. Kami juga promosikan kain Tenun Sambas di Jakarta,’’ papar Tjammy.

Selendang Songket Limar asal Mentok, Bangka (Foto: Istimewa)

Dengan upaya tersebut, lanjut Tjammy, akhirnya banyak penenun yang sudah dibajak mau kembali ke tanah air. Mau mengabdikan dirinya pada Indonesia. Tidak lagi menenun kain Malaysia atau Brunei Darusalam. ’’Pas dengar satu lolos dari jeratan Malaysia dan Brunei, itu perasaan saya bahagia sekali. Seperti menyelamatkan nyawa manusia saja,’’ tambahnya.

Sejak saat itu, CTI terus berupaya untuk memberdayakan penenun yang mungkin jauh dari kata cukup. Penenun yang masih belum dilihat hasil kain ciptaannya. Sampai sekarang, kalau masih ada yang bisa Tjammy lakukan untuk penenun, dia akan lakukan. ’’Ada kebahagiaan tersendiri jika melihat ada penenun yang sekarang sudah sukses,’’ pungkasnya.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement