Ia pun menjelma menjadi sesosok dewi yang memimpin kawanan burung yang terbang dari Utara ke Selatan. Jejak air mata sang Dewi menjadi jalur migrasi burung-burung untuk berpindah dari tempat dingin ke area yang hangat.
“Dari inspirasi tersebut saya berkeinginan bila suatu saat akan membuat koleksi yang ada hubungannya dengan ini,” ujar Hian Tjen sebelum peragaan busana Couture 2017-2018 di Raffles Hotel, Jakarta Selatan, Rabu 6 September 2017.
Berbeda dengan koleksi busana pada dua tahun lalu, koleksi adi busana Hian kali ini bergaris desain lebih ringkas, ringan, dan lebih kekinian. Meski terkesan sederhana dan ringkas, namun justru menghadapkannya pada tingkat kesulitan ketika menciptakan busana yang sarat akan unsur dekoratif. Pasalnya, ia dituntut menangkap esensi siluet yang ingin ditampilkan.
“Koleksi yang sekarang mengikuti tren di dunia mode, di mana baju dibuat lebih simpel. Simpel tapi terlihat eye catching, teknik pengerjaannya pun tinggi. Jadi, walaupun cutting-annya biasa, tetapi tekniknya bisa berkali-kali,” paparnya saat jumpa pers.