Selain sebagai tempat wisata baru, Curug Tilu juga destinasi wisata pertama di Kecamatan Sukasari. Dulunya, Sukasari merupakan wilayah terjauh dari ibukota Purwakarta. Bahkan, bila ingin ke kota, masyarakat menggunakan perahu melintasi Waduk Jatiluhur. Namun setelah dibangun jalan yang membelah pegunungan, jarak antara desa-desa di Kecamatan Sukasari dengan pusat Kota Purwakarta, menjadi lebih dekat. Sekitar 2 jam perjalanan menggunakan mobil.
BACA JUGA:
Disebut Curug Tilu, karena ada tiga undakan curug. Undakan pertama dan kedua tingginya sekitar 4 sampai 5 meter, sementara yang ketiga lebih pendek. Airnya berwarna jernih kehijauan. Pengunjung tidak dilarang mandi, hanya saja tidak diperbolehkan berkata kotor maupun membuang sampah sembarangan.
"Masyarakat di sini masih memegang kukuh, bahwa ada larangan yang tidak boleh dilakukan di Curug Tilu. Tidak boleh ngomong di luar dari pada etika, karena akan berimbas pada yang tidak diinginkan. Orangtua bilang pamalih," terang Arivin.
Air di Curug Tilu berasal dari tiga sungai di atasnya, yakni Sungai Panggurangan, Sungai Sajim, dan Sungai Ciririp. Hilir aliran sungai ini adalah Waduk Jatiluhur yang merupakan salah satu icon Kabupaten Purwakarta. Sementara di atas Curug Tilu, ada dua curug lainnya yakni Curug Panggurangan dan Curug Sajim. Ketinggian Curug Sajim mencapai 20 meter dan butuh waktu 2 jam ke sana dari Curug Penggurangan.
"Kami juga menemukan curug lain, Curug Cimata Indung. Curug ini terkenal dengan kejernihan airnya yang konon katanya adalah satu-satunya curug yang tidak bisa dikotori oleh manusia. Kata orangtua dulu seperti itu," ujar pria berumur 35 tahun ini.
Alam Desa Ciririp di sekitaran Curug Tilu memang menawan. Hutan yang membentang membuat tempat itu terasa asri. Udara juga sejuk ditambah suara aliran air yang menenangkan batin. Arivin bilang, waktu terbaik ke tempat ini adalah Maret dan April. Musim penghujan membuat debit air sungai lebih besar, sehingga diameter curug jauh lebih lebar. Kegiatan air selain berenang juga bisa dilakukan, seperti menyusuri sungai dengan ban maupun body rafting. Namun di sisi lain ada bahaya yang mengancam.
"Kami dari komunitas ada perhatian khusus ketika terjadi hujan di hulu. Semua yang ada di aliran sungai kami minta untuk naik ke jalur evakuasi yang sudah diberi tanda, agar tidak bahaya. Potensi terjadi bandang soalnya," terangnya.
Curug Tilu menjadi destinasi wisata pun berdampak positif pada perekonomian warga setempat. Denyut perkonomian terlihat dari lapak-lapak dagang di sepanjang jalan setapak menuju Curug Tilu. Kebanyakan lapak menjual makanan dan meniman ringan, tapi ada juga yang menjual ikan bakar dan kelapa muda.
"Dulu warga di sini kebanyakan bekerja sebagai kuli angkut bambu, kini beralih menjadi penjaga atau pemelihara curug itu sendiri. Ada juga yang berdagang," akunya.
Arivin menambahkan, masuk ke Curug Tilu dikenakan biaya Rp5.000 ke setiap pengunjung. Uang tersebut diperuntukan menjaga keamanan dan kebersihan Curug Tilu. Kemudian untuk kegiatan karang taruna dan membantu masyarakat setempat. Curug Tilu, semoga kelestarian alam sekitarmu terjaga.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.