SALAH satu penyakit berbahaya yang dapat berujung pada kematian adalah hepatitis, karena dapat menyebabkan kanker hati. Sayangnya, penyakit hepatitis di Indonesia kasusnya masih terbilang tinggi.
Sesuai dengan namanya, hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada organ hati. Sebagai organ penting yang terletak di bagian kanan atas rongga perut, hati berperan dalam melakukan metabolisme nutrisi, obat-obatan, hingga racun dalam tubuh. Bila terjadi kerusakan atau peradangan pada organ tersebut maka dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati itu sendiri.
(Baca Juga: Gawat! Tren Penyakit Hepatitis di Indonesia Semakin Meningkat, Apa Sebabnya?)
Peradangan hati atau hepatitis disebabkan oleh berbagai hal. Salah satu penyebab yang paling sering adalah virus. Penyakit ini ditularkan lewat virus yang menyerang bagian hati. Virus yang menyebar melalui darah dan cairan tubuh ini terdiri dari hepatitis A, B, C, D, dan E.
Kasus yang paling sering terjadi dan mengkhawatirkan di Indonesia adalah hepatitis C dan B. WHO memperkirakan ada 71 juta orang di dunia yang terinfeksi hepatitis C kronis. Sekira 10 juta orang di antaranya tinggal di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
(Baca Juga: Ibu Hamil Rentan Tularkan Hepatitis B, Segera Suntikkan Vaksin kepada Bayi Setelah Lahir)
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan, prevalensi orang yang terinfeksi hepatitis C 2,5% atau sekira 5 juta orang. Virus hepatitis menyebabkan lebih dari 1 juta kematian pada tahun 2015. Angka ini serupa dengan kematian yang disebabkan oleh tuberkulosis (TB) dan lebih tinggi dari kematian terkait HIV.
Sementara itu, virus hepatitis B dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat dilahirkan. Untuk mencegah penularannya, dokter akan menyuntikkan imunoglobulin dan vaksin hepatitis B tidak lebih dari 24 jam bayi lahir. Prosedur ini dinilai efektif untuk mencegah penularan penyakit dalam waktu cepat. Diharapkan semua fasilitas kesehatan menyediakan vaksin HB0 dan memberikan kepada bayi baru lahir dalam waktu cepat.