SEBAGAI salah satu wilayah penghasil kopi terbesar di Indonesia, Sumatera memiliki beragam varian kopi berkualitas yang telah memikat para pencinta kopi nusantara maupun mancanegara. Kopi Mandailing adalah salah satu contohnya.
Kopi jenis arabika ini telah dikenal masyarakat internasional sejak tahun 1878. Nama Mandailing sendiri diambil dari nama salah satu suku yang berada di Sumatera Utara. Asal mula Kopi Mandailing tidak terlepas dari masa-masa kolonial Belanda di Tanah Air. Pada 1833, Belanda mulai memasuki daerah Mandailing melalui Pelabuhan Natal.
BACA JUGA:
Mereka mulai mendatangkan bibit kopi dari Jawa pada tahun 1835 melalui sebuah kerjasama dengan perusahaan miliki Raja Willem 1. Lima tahun kemudian, proses pembibitan mulai dilakukan di kawasan Tano Bato, Penyabungan Selatan, dan Mandailing Natal. Sistem tanam paksa yang digunakan berhasil menyebarkan bibit kopi ke beberapa daerah di Mandailing seperti ke Pakantan, Mandiling Natal, dan daerah Angola. Menurut beberapa ahli, Kopi Mandailing yang berkualitas harus ditanam pada ketinggian 1200 mdpl.
Hingga pada tahun 1848, tercatat sudah ada 2.8 juta batang kopi dengan produksi biji kopi mencapai 9,3 ton. Hasil kopi tersebut dikumpulkan di gudang Belanda di Tano Bato, lalu dibawa ke pelabuhan Natal untuk dibawa ke negara asal mereka dan dijual ke sejumlah negara.
Lantas apa yang menjadi keistimewaan Kopi Mandailing dibandingkan kopi khas Sumatera lainnya?