Bagian-bagian sapi tersebut kemudian diolah menjadi berbagai hidangan, salah satunya bagian iga yang direbus dengan mencampurkan beberapa bumbu rempah-rempah seperti kunyit, lada, daun sereh, daun salam, dan santan kelapa. Dari sinilah awal mula terciptanya hidangan berkuah yang kini kenal dengan sebutan Soto Tangkar. (Wikipedia)
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar berupa potongan iga yang berdaging sedikit, karena bagian daging sapi yang lain sudah diambil oleh keluarga bagsawan kolonial.
Seiring berjalannya waktu, soto tangkar mengalami berbagai modifikasi sehingga suguhannya sedikit berbeda dengan olahan tempo dulu. Sekarang, soto tangkar dibuat dari daging sapi utuh, bahkan juga dilengkapi dengan jeroan. Para penjual soto tangkar juga menyediakan beragam pilihan daging sapi, jeroan, dan tulang muda.
Dikutip Okezone dari buku 80 Warisan Kuliner Nusantara karangan Tim Bango, para penjual soto tangkar dulu menggunakan pikulan khas yang mereka gotong berkeliling kampung. Selain itu, wadahnya pun bukan dari panci melainkan tembikar. Saat ini, para pedagang soto tangkar menggunakan gerobak dan wadah yang lebih modern.