Rata-rata penduduk Desa Muntei ini petani, ada yang bertani pisang, kelapa, pinang dan baru-baru ini kembali memunculkan usaha tani nilam, sementara coklat yang selama ini menjadi andalan masyarakat sudah tidak lagi dilakukan lantaran terserang pembusukan buah.
Selain itu, di sana juga terdapat 2 sanggar lho! Pertama Sangar Budaya Arat Sabulungan, yang menyimpan beragam atribut-atribu budaya Mentawai, mulai dari gajeumak atau gendang tari, alat tempat makankan (lulak), ada juga tuddukat, serta alat budaya lainnya yang dipakai oleh masyarakat saat melakukan upacara dan ritual lainnya.
Kemudian sanggar kedua itu ada Sanggar Manai Sikerei, kalau sanggar ini lebih identik seni yang dibina oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga. Di sanggar ini perpaduan musik tradsional dan modern. “Tapi ada ada juga musik tradisional,” kata Agus.
Selain itu di Desa Muntei ini juga ada 2 Uma (rumah tradisional), pertama milik Suku Sakukuret dan kedua milik Suku Salakkopa. Kementerian terkait membuat program untuk memelihara nilai budaya, sehingga uma-uma yang rusak direnovasi kembali.
“Kita semua tahu mengganti Uma ini seperti mengganti atapnya tidak sembarang waktu tidak semuda apa yang kita bayangkan. Jadi kalau Uma di Mentawai itu rusak akan dibiarkan dia rusak karena kekawatiran pemerintah akan punah Uma di Mentawai sehingga pemerintah memberikan bantuan dana serta seluruh biaya untuk upacara selama pendirian uma,” ujar Agus.
(Baca Juga: Cantiknya Pulau Sipora Mentawai Jadi Spot Surfing Kelas Dunia)
Kemudian di Desa Muntei juga masih ada Sikerei (tabib) yang mengobati orang sakit serta menghubungkan dunia gaib. Untuk Sikerei Sabirut ada 2 orang Teteu Rima dan Teteu Andro. Sedangkan Sikerei Sasaibi ada beberapa orang, yakni Aman Boroi Ogok, Pangaritan, Aman Akrikok, Paddei.