Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kuat dan Tegar! 5 Kisah Anak Pemberani Pengidap Kanker Paling Mengharukan

Tiara Putri , Jurnalis-Minggu, 23 Juli 2017 |20:30 WIB
Kuat dan Tegar! 5 Kisah Anak Pemberani Pengidap Kanker Paling Mengharukan
Rett Cavan menderita kanker hati (Foto: Thsun)
A
A
A

4. Eva, bocah pengidap kanker neuroblastoma selalu membuat orang tersenyum

Kanker adalah salah satu penyakit penyebab utama kematian. Kanker bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan golongan. Anak-anak sekali pun bisa terkena kanker di saat usianya masih muda. Jenis kanker yang mungkin dialami anak-anak adalah kanker neuroblastoma.

Seorang gadis kecil bernama Eva Bevan harus merenggang nyawa karena kanker neuroblastoma. Eva didiagnosis menderita kanker pada usianya yang menginjak 7 tahun. Gadis yang kuat, cantik, dan lucu itu pada awalnya mengeluhkan sakit di pinggulnya. Lalu tiba-tiba, Eva mulai lemas dan tidak bisa berdiri tegak di lantai. Eva lantas dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

(Foto: Walesonline)

Setelah dilakukan pemeriksaan yang meliputi tes darah dan pemindaian MRI, hasilnya menunjukkan ada pembengkakan luas di pinggulnya akibat tumor. Saat itu Eva baru berumur 6 tahun dan langsung dipindahkan ke rumah sakit lain untuk menjalani biopsi. Dua minggu kemudian, Eva melakukan kemoterapi pertamanya.

“Dia benar-benar aktif dan mendengarkan semua percakapan tentang perawatan yang harus diterimanya. Padahal, dia baru saja menerima kenyataan bahwa dia sakit parah. Beberapa kali dia memutar matanya padaku dan menyuruhku berhenti menangis,” ungkap ibu Eva, Lauri Cowdell seperti yang dikutip dari Wales Online.

Lauri memuji anaknya sebagai anak yang pemberani dan kuat. Sebab Eva harus menjalani 3 jenis kemoterapi yang berbeda dan operasi pengangkatan tumor. Kedua tindakan itu membuat Eva merasa sakit, tapi Eva tidak berhenti tersenyum dan membuat orang lain tertawa. Menurut Lauri, gadis kecilnya memiliki selera humor yang tinggi.

“Dia bisa membuatku tertawa sepanjang waktu. Bahkan saat dia kehilangan rambutnya, dia suka bercanda dengan bilang menyukai tampilan botak,” tutur Lauri.

Tapi sayangnya, setelah berjuang 15 bulan untuk melawan kanker, Eva harus meninggal pada 25 Mei 2017. Hal itu disebabkan karena sel kanker tidak bisa dikeluarkan dari sumsum tulangnya dan telah menyebar ke tulang belakang serta paru-parunya.

Karena putrinya sangat mencintai kehidupan, usai kematian Eva, Lauri mengumpulkan uang amal untuk anak-anak yayasan Latch. Keluarga Eva juga menyiapkan akomodasi dan perjalanan liburan yang semua biayanya ditanggung oleh pihak keluarga.

“Kami pergi ke Cadbury World dan melanjutkan liburan. Sepanjang masa-masa sulit karena kehilangan Eva, kami bisa menciptakan kenangan indah,” pungkas Lauri.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement