HAMPIR semua orang tidak ingin menderita penyakit, terlebih kanker, penyakit ganas yang masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Hal yang memilukan, kanker bisa menyerang semua usia, termasuk anak-anak dan balita.
Kanker seketika bisa merampas masa-masa kecil anak yang harusnya dipenuhi dengan bermain riang gembira. Terbaring di rumah atau rumah sakit untuk pengobatan, dan kemoterapi harus mereka dijalani, meninggalkan teman-temannya di taman bermain.
Raut muka yang tetap penuh senyum membuat orangtua mereka tidak kuasa membendung air mata kala akhirnya ajal menjemput. Semangat dan ketegaran mereka melawan kanker seolah menjadi pelecut orang-orang dewasa untuk terus menjalani hidup, sesulit apapun kondisinya.
Untuk itu, dalam rangka memeringati Hari Anak Nasional, berikut 5 kisah anak pemberani pengidap kanker paling mengharukan yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber:
1. Kisah bocah berjuang melawan kanker otak, Jantung sempat berhenti berdetak
Berjuang melawan kanker bukanlah sesuatu yang mudah. Selain harus menahan sakit karena tindakan penanganan, biaya pengobatan kanker tidaklah murah. Banyak orang yang meninggal lebih cepat lantaran tidak memiliki uang yang cukup untuk menjalani pengobatan. Kejadian itu hampir menimpa pasangan Leichelle dan Phillip Smith.
Beruntung, kedunya mendapatkan bantuan dari Kids and Cancer Motorcylce Benefit Run. Mereka menerima sejumlah dana untuk mengobati anak laki-laki mereka yang terkena kanker otak. Anak laki-laki Leichelle dan Phillip yang bernama Westen Smith kini telah berusia 2,5 tahun. Tahun lalu, saat usianya lebih dari setahun, Westen didiagnosis memiliki tumor di batang otaknya.
Leichelle merasa sangat terkejut karena tidak pernah mengalami permasalahan berarti saat mengandung maupun melahirkan. Setelah berjalan beberapa bulan setelah melahirkan, Leichelle mulai merasa kepala anaknya miring ke belakang. Akhirnya, ibu dua anak itu membawa Westen untuk menjalani tes neurologis.
(Foto: Bradfordera)
Dari hasil tes diketahui bahwa ada tumor di batang otak Westen dan perlu dilakukan pembedahan untuk mendapatkan jaringan agar bisa dilakukan biopsi. Sayangnya, saat melakukan pembedahan Westen mengalami masalah yaitu jantungnya berhenti berdetak sehingga harus menerima bantuan transfusi darah dari ibunya.
Setelah keadaan Westen kembali normal dan stabil, ahli bedah meletakkan kasa steril yang sudah dikemas di dalam kepalanya. Seminggu kemudian, kasa dikeluarkan dari kepala Westen dan dokter mengatakan dirinya tidak yakin betul bahwa tumor yang ada di batang otak Westen adalah kanker. Hal itu membuat Westen tidak mendapatkan biopsi.
Tapi, Westen tetap harus menjalani latihan fisik dan berbicara 2 kali seminggu. Selain itu, Westen harus menjalani MRI setiap 6 bulan sekali untuk memastikan kondiisinya pascaoperasi. Akibat banyaknya perjalanan yang harus dilakukan ke rumah sakit, orangtua Westen mengalami masalah keuangan karena kehilangan pekerjannya. Terlebih mereka masih memiliki seorang anak perempuan yang berusia 8 tahun.
Di tengah kebingungan yang melanda, datanglah bantuan dana yang bersedia membayar hipotek dan pembayaran mobil. “Pembayaran ini sangat membantu pihak keluarga. Terlebih mereka mau membantu lebih jauh apabila ada hal lain yang dibutuhkan,” papar Leichelle seperti yang dikutip dari Bradford Dera.