Konsekuensi nyawa
Para petugas medis Sudan mengatakan perempuan muda di negara itu terancam meninggal akibat gangguan jantung dan ginjal karena tiba-tiba berhenti menggunakan pil steroid tersebut.
Kematian umumnya terjadi di kalangan pengantin baru, yang biasanya menjalani proses 'pencantikan' selama sebulan sebelum hari pernikahan dan tiba-tiba berhenti menggunakan pil penggemuk dan krim pemutih. Kematian mereka disebabkan kegagalan organ tubuh secara mendadak.
Walau dampaknya yang mematikan, kecenderungan demi kecantikan ini terus menimbulkan daya tarik.
Meningkatnya penyalahgunaan resep pil di kalangan masyarakat Sudan yang konservatif, antara lain disebabkan oleh lemahnya stigma sosial atas penggunaan pil.
Para mahasiswa, misalnya, berbondong-bondong untuk membeli obat penghilang rasa sakit, yang satu pil dijual dengan harga 20 Pound Sudan atau Rp24.000.
Beberapa penjual teh pinggir jalan di ibu kota Khartoum bahkan menaruh obat penghilang rasa sakit di semangkuk teh, sesuai dengan kode permintaan dari pelanggan. Sementara kampanye kesadaran akan obat-obatan tidak berdampak banyak.
Dr Ibrahim, Ketua Persatuan Ahli Farmasi Sudan, sudah beberapa kali tampil di stasiun TV nasional untuk memperingatkan bahaya dari penyalahgunaan pil resep.
Di kalangan universitas, para ahli farmasi juga dikerahkan untuk mengingatkan agar mahasiswa berhati-hati dan tetap mematuhi undang-undang serta etika farmasi.
Namun di negara dengan gaji rendah untuk ahli farmasi dan dokter, godaan untuk menjual obat-obatan kepada pedagang gelap yang menang di kalangan sejumlah orang. "Yang terakhir kali saya ke toko kecantikan untuk membeli kirim, pemiliknya membawa satu kotak coklat yang isinya beragam pil penggemuk," kata Imitithal, mahasiswa di Universitas Khartoum tadi.
"Para perempuan takut untuk bertanya kepada dokter dan ahli farmasi tentang pil yang mereka beli dari toko kecantikan karena takut dipermalukan di depan umum."
Polisi mungkin menangkap para penjual pil dan menghambat rute penyelundupannya, namun keuntungan dari 'apotek nakal' tetap saja terus berkembang. Pil penggemuk bahkan mengalir ke pasar gelap dan dianggap lebih kurang berbahaya.
Sudan sebenarnya bukan satu-satunya masyarakat yang melihat kegemukan sebagai lambang dari kemakmuran dan kekuasaan, yang meningkatkan peluang untuk menikah bagi kaum perempuan muda.
Namun di Sudan, kegemukan menjelma menjadi yang ideal, menjadi puncak dari perempuan Sudan: tubuh montok dan kulit putih, yang melambangkan kecantikan serta dambaan seorang istri.
Status ikonik dari Nada Algalaa, seorang penyanyi Sudan yang penampilannya dipuja dan ditiru adalah sebuah pernyataan dari nilai tersebut. Dan bagi sejumlah perempuan, ideal itu harus dicapai dengan segala cara.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.