Menurut Heri, selama ini Kampung tajur memang menjadi tujuan wisata bernilai edukasi. Karena, selain berwisata, para pengunjung yang datang juga bisa mengikuti aktivitas warga. Semisal, bercocok tanam, membajak sawah, tanam padi, beternak dan lainnya.
Selain mengikuti aktivitas warga sekitar, mereka pun bisa ikut membuat kerajinan. Ada banyak suguhan kerajinan di kampung ini. Di antaranya, membuat anyaman berbahan dasar bambu, membuat gula aren, membuat penganan ringan dan belajar cara budidaya ternak.
"Jadi, selama berada di kampung ini, mereka bisa berbaur dengan tuan rumah. Pengunjung pun bisa bermalam, karena di lokasi itu sudah disediakan homestay," jelas dia.
Asri, mungkin itu sedikit gambaran suana di Kampung Tajur. Bagi masyarakat perkotaan, suasana lingkungan nan alami seperti ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan sangat langka didapat. Memasuki perkampunga itu, suasana pedesa alami akan sangat terasa. Puluhan rumah panggung, menghiasi kampung ini.
Kampung Tajur (foto: Dokumentasi Dinas Pariwisata Kabupaten Purwakarta)
Rumah tersebut, sangat cocok dipadukan dengan udara dingin kaki bukit Burangrang. Ternyata, kampung ini berada di atas ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Suhu udara di kampung ini, antara 18-32 derajat celcius. Jadi, sangat cocok dijadikan tempat untuk beristirahat dari kepenatan kehidupan kota.