SAKIT yang saya rasakan tidak cukup dari segi fisik. Psikis saya juga terguncang akibat cemoohan orang-orang sekitar.
Dampak dari terapi thalasemia banyak menimbulkan rasa sakit hati yang terdalam. Waktu kecil saya bisa tergolong tidak bahagia.
Saya harus menjalani terapi transfusi darah yang hampir dijalani setiap hari. Slang dan kantung darah menjadi teman saat itu.
Tapi berkat dua benda itu saya bisa sehat hingga sekarang. Jarum menusuk kulit, meski sakit tapi saya harus bisa menyelamatkan diri dari ancaman thalasemia.
Rumah sakit menjadi tempat bermain saya di waktu kecil setiap hari. Ditemani perawat-perawat yang baik dan mau menjaga saya ketika menjalani transfusi darah.
Saat menjalani perawatan, sudah pasti harus bolos sekolah. Orangtua meminta izin ke sekolah agar saya bisa menjalani terapi rutin.