Saya selalu semangat dan berjuang untuk hidup. Meski menderita thalasemia sejak bayi, saya tetap meyakinkan orangtua agar bisa sembuh.
Hari demi hari saya selalu ditemani oleh slang dan kantung darah. Saya menjalani terapi transfusi darah untuk menyembuhkan kasus thalasemia mayor.
Tapi saya bisa tumbuh besar menjadi anak-anak yang bisa membanggakan orangtua. Meski tubuh ini kecil dan lemah, saya berusaha untuk pergi ke sekolah dan bermain dengan teman-teman kecil saya.
Hanya, setiap seminggu bolos sekolah untuk pergi ke rumah sakit. Saya dicemooh teman-teman di sekolah yang cukup memalukan.
Saya hampir setiap hari melakukan transfusi darah yang ditemani oleh dokter-dokter yang ramah. Tapi bukan berarti melakukan terapi ini bisa sembuh total.
Malah saya mengalami banyak efek samping yang semakin membuat terasa sakit. Kulit saya menghitam dan tidak tampak segar. Pilu, pedih dan sempat putus asa di waktu kecil saat menjalani terapi.