MONGOLIA berada di lokasi dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan. Tak heran suhu di Mongolia cukup dingin, ternyata ini ada pengaruhnya dengan santapan tradisional masyarakatnya.
Dilansir dari Asian-recipe masyarakat Mongolia punya sejarah panjang seputar makanan tradisionalnya. Pola makannya sangat bergantung pada komposisi daging sebagai bahan baku. Ini disebabkan karena masyarakat membutuhkan makanan yang bisa membantu menghangatkan suhu tubuh mereka.
Mongolia dikenal juga sebagai daerah yang kerap mengalami musim dingin yang panjang. Mayoritas pekerjaan masyarakat Mongolia adalah penggembala dan mereka awalnya dikenal sebagai masyarakat yang hidup berpindah alias nomaden. Selama berabad-abad, masyarakat sudah mengandalkan sumber makanan daging sebagai makanan pokok yang juga penghangat alami.
Tepat pada 1991, ekonomi global mengalami krisis sehingga Rusia menghentikan kiriman bantuan ke Mongolia. Masa ini dialami masyarakat Mongolia sebagai masa yang sangat sulit dimana banyak masyarakat yang kelaparan. Kemudian krisis ini mulai menurun setelah Mongolia kembali mendapat bantuan makanan impor dari Uni Soviet.
Secara tradisional, masyarakat Mongolia sudah lama mengandalkan makanan yang tinggi protein dan mineral. Sementara sayuran dan buah jadi makanan selingan yang bukan diutamakan untuk disantap.
Beberapa makanan yang jadi sumber asupan pokok adalah produk daging dan susu. Tapi disamping itu masyarakat Mongolia juga menyantap sereal, buah-buahan, sayuran dan sumber makanan lain yang tumbuh di negaranya.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Mongolia menemukan cara kreatif untuk mendapatkan produk susu mulai dari susu sapi, domba, kambing, unta dan kuda. Susu dari kelima hewan domesik Mongolia ini kemudian diolah kembali menjadi berbagai produk turunan susu mulai dari orom atau krim susu, aaruul atau dadih kering yang diolah dibawah sinar matahari, eetsgii atau keju kering, airag atau susu hasil fermentasi kuda betina dan lain sebagainya. Semua produk olahan susu ini diolah sepanjang musim panas sebagai cadangan makanan di musim dingin dan musim semi yang panjang.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada 1992 membuktikan bahwa sistem pencernaan masyarakat Mongolia lebih cepat menyerap makanan yang tinggi akan asam. Sehingga tak heran banyak makanan tradisional yang dibuat dengan cara difermentasi dalam jangka waktu tertentu.
Di awal 1999 banyak tersebar kios dan pasar yang lebih mirip swalayan bergaya barat. Berbagai makanan juga banyak dijual mulai dari jeruk, pisang, plum dan ayam, padahal sebenarnya ini bukanlah makanan asli masyarakat Mongolia, bahkan mereka tidak pernah mencicpnya sama sekali. Ini yang kemudian menjadikan makanan Mongolia terkawinkan oleh budaya luar.
Kini sudah banyak juga restoran francaise yang berdiri di Mongolia, berbagai sajian makanan juga siap memanjakan lidah. Sayangnya makanan-makanan bercita rasa khas seperti dari Korea, Rusia, Italia, India, China, Jepang, Inggris dan Prancis tidak semuanya bisa diterima lidah masyarakat asli Mongolia.
Beberapa masyarakat memang bisa menyantap suguhan hot dog atau makanan korea, tapi sayang tidak sedikit yang lidahnya menolak, apalagi untuk hidangan yang bukan terbuat dari bahan baku makanan pokok masyarakat Mongolia. Misalnya saja pada restoran Jepang, hanya 20 persen masyarakat Mongolia yang mau mencicipi. Tampaknya mereka asing dengan cita rasa sushi dan sashimi yang kebanyakan terbuat dari ikan.
Kenali 3 Kuliner Tradisional Khas Mongolia dan Keunikannya
BERBATASAN langsung dengan Rusia dan China, tidak mengherankan jika kuliner tradisional Mongolia mendapat pengaruh yang kuat dari kedua negara tersebut.
Bahan dasar yang digunakan pun terbilang tidak biasa. Penduduk Mongolia umumnya menggunakan daging kuda, daging domba, daging sapi, bahkan daging unta dalam beberapa resep makanannya.
Daripada penasara, berikut Okezone rangkumkan 3 jenis kuliner tradisional Mongolia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya.
Khorkog