Seiring berjalannya waktu, metode ini berhasil menyebar ke seluruh daratan China, hingga ke Negeri Sakura Jepang. Mereka mengambil konsep tersebut dan memodifikasinya lebih lanjut.
Awalnya, hidangan yang disajikan hanya berupa nasi dan ikan saja. Namun, pada awal abad ke-18, distrik Matsumoto Yoshiici Edo (sekarang bernama Tokyo) mulai membumbui nasi dan ikan dengan cuka anggur. Hal ini memungkinkan para pembeli untuk langsung menyantapnya, tanpa harus menunggu berbulan-bulan seperti yang dilakukan penduduk asli China.
Evolusi sushi
Pada awal abad ke-19, seorang pria bernama Hanaya Yoheii melakukan sebuah perubahan besar dalam proses pengolahan dan penyajian sushi. Ia tidak lagi membungkus daging ikan dengan nasi, Yohei justru menyajikan potongan daging ikan segar di atas sepotong nasi berbentuk persegi panjang.